5 Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Vaksin Bayi

www.ibudanbalita.com
www.ibudanbalita.com

Vaksin bayi, salah satu metode pencegahan virus dan kuman yang kerap jadi program kesehatan. Si kecil yang rentan tentu dikelilingi iming-iming beragam jenis obat, dan jarum dengan jaminan beragam namun serupa yakni pertumbuhan optimal. Jangan salah paham dulu, terkadang brosur pemasaran tidak melulu soal minta uang tanpa pemberian manfaat sepadan.

World health organization atau organisasi kesehatan dunia menyatakan satu dari sepuluh bayi di seluruh dunia melewatkan kesempatan vaksin. Unicef menyodorkan data serupa dimana dua belas juta bayi di seluruh dunia tidak mendapat vaksin pada tahun dua ribu enam belas. Fakta tersebut menunjukkan betapa banyak penerus bangsa masih dibawah ancaman penyakit mengerikan seperti campak, rubella, atau tetanus.

Berita seputar vaksin disertai rasa skeptis terhadap pemerintahan tidak pula mendukung kesadaran akan pentingnya pencegahan secara medis. Kendati demikian, rasa takut orang tua beralasan mengingat memang, seperti semua hal di dunia, vaksin tidak seratus persen sempurna. Namun, bukan berarti orang tua hanya mampu duduk manis di rumah menunggu kedatangan bakteri dan kuman.

Langkah persiapan vaksin sangat dianjurkan sebelum ayah bunda memutuskan ikut program vaksin seperti apa. Tenang saja, persiapan sebelum memasuki ruang dokter tidak akan merepotkan, yang ada pikiran orang tua jauh lebih tenang karena tahu anggaran belanja digunakan untuk apa. Nah, langsung saja, setidaknya ada 5 langkah yang harus dilakukan.

  1. Periksa dokumen kesehatan keluarga

Dokumen kesehatan keluarga jauh lebih penting dari yang dikira. Kebanyakan orang mungkin hanya mengira dokumen kesehatan digunakan untuk mempermudah dokter melacak pasien, bisa dibilang benar tapi tidak sepenuhnya. Dokumen tersebut, akan digunakan meski garis keturunan terlampau jauh.

Percaya tidak percaya, beragam kondisi kesehatan justru muncul karena faktor keturunan. Ironis memang, kalau menimbang fakta bahwa kondisi tersebut bukan berasal dari ayah atau bunda, melainkan diperoleh dari leluhur salah satu atau malah kedua belah pihak.
Jenis vaksin ada beragam, bisa jadi semua diperlukan, ada pula yang tidak. Mengenali ‘sejarah’ kesehatan leluhur dapat menjadi dasar pemilihan vaksin. Ditambah lagi, orang tua bisa prediksi penyakit tak diinginkan seperti apa yang kemungkinan muncul pada si kecil. Tak lupa, komunikasikan dengan pasangan mengenai statistik penyakit keluarga masing-masing.

  1. Baca kandungan vaksin

Vaksin sama hal dengan obat lain dirancang sesuai fungsinya. Akan tetapi, beberapa tubuh mungkin tidak begitu bersahabat dengan keberadaan beberapa kandungan. Jangan salahkan petugas apabila anak menunjukkan reaksi tidak diinginkan meskipun bayi lain keluar dari ruangan dengan hasil yang diharapkan.

Dokter sengaja diperkejakan khusus untuk mempelajari kondisi tubuh pasien. Buah hati ayah bunda juga demikian, dimana tubuh bayi tidak selalu sama dengan yang lain. Ragam uji coba dan tes yang dijalankan dokter dengan sangat mudah menemukan zat seperti apa yang akan menjatuhkan kesehatan si kecil. Selalu gunakan informasi tersebut untuk menganalisa kecocokan kandungan vaksin dengan bayi.

 

  1. Rajin baca buku istilah medis

Dokter kerap kali menggunakan istilah tidak umum seperti menyebutkan kotoran dengan feses atau memakai istilah ilmiah lain, yang buat orang awam bingung. Apalagi dokter yang baru, masih membutuhkan waktu transisi bahasa awam dengan bahasa kedokteran. Jangan salahkan dokter, justru ayah dan bunda harus terima kasih dokter tidak berusaha menerjemahkan istilah tersebut.

Kadang, tidak semua hal bisa diterjemahkan secara gamblang. Ada masa dimana suatu kata jauh lebih baik dipertahankan keasliannya. Ayah dan bunda yang seharusnya mulai rajin mencari istilah-istilah medis yang disampaikan dokter. Dengan demikian, akan membuka pemahaman lebih mendalam mengenai kondisi si kecil, termasuk paham dasar keputusan yang diambil oleh dokter.

Memahami dan ahli tentu dua hal berbeda. Ya, memang, buku istilah medis sangatlah tebal dan buat kepala pening kalau tidak terbiasa. Tenang saja, bukan berarti harus paham semuanya, namun paling tidak ayah bunda tak lagi sekedar bengong saat dijelaskan. Bahkan, dengan paham berbagai istilah akan memudahkan ayah bunda saat bertanya, termasuk diskusi mengenai apa yang si kecil rasakan.

 

  1. Dengarkan pengalaman orang lain

Harta yang sangat berharga dan sulit dibeli adalah pengalaman. Kalaupun ayah bunda baru pertama kali membawa anak semata wayang ke meja dokter untuk vaksin, dirinya bukan tikus percobaan. Rasa skeptis belum tentu hilang, dan seharusnya wajib diminimalisir supaya orang tua tidak mengeluarkan aura negatif.

Kenalan, teman, dan keluarga menjadi aset yang sangat berharga dalam situasi semacam ini. Tanyakan segala keluh kesah mengenai vaksin, termasuk minta tips bagaimana mengatasi kondisi si kecil usai vaksin. Ingat, mereka sudah melewati fase mengerikan namun diperlukan yakni proses vaksin.

 

  1. Pelajari cara kerja vaksin

Mengeluarkan uang untuk produk yang tidak dikenal bisa dibilang konyol. Ternyata, tindakan konyol ini pula dilakukan oleh banyak orang. Walaupun vaksin memiliki reputasi yang cukup baik, tidak ada salahnya untuk memahami apa yang sebenarnya dilakukan oleh para petugas kesehatan. Sama hal dengan mempelajari istilah medis, orang tua tidak perlu paham mendalam, minimal mengerti saja.

Konspirasi dan berita miring seputar vaksin memang banyak beredar. Namun, dengan menjalankan 5 langkah diatas, setidaknya ayah bunda berhasil meminimalisir kemungkinan hal tak diinginkan terjadi pada si kecil. Kendati demikian jangan pernah lelah belajar setiap kali ada vaksin bayi yang diperkenalkan, bukankah setiap kesempatan tidak boleh terbuang sia-sia?(HN)

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *