7 Tindakan ‘Salah Kapra’ dalam Mendidik Anak

salah mendidik anak
Source: http://healthland.time.com

 

Semua orang tua tentunya ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya agar menjadi orang yang berhasil di kemudian hari. Oleh karena itu, mendidik anak adalah hal yang sangat penting. Namun, terkadang didikan yang diyakini benar belum tentu sesuai untuk mencapai hasil yang diharapkan. Gawatnya, hal-hal tersebut dilakukan berulang-ulang karena diwariskan dari generasi ke generasi. Bunda, berikut ini hal-hal ‘salah kapra’ yang dilakukan ketika hendak mendidik buah hati Anda.

Kebiasaan menyalahkan

Ketika anak terjatuh karena tersandung kursi lalu menangis, biasanya Bunda akan datang untuk melihat keadaan anaknya, kemudian anak tersebut digendong dan ditenangkan dengan kalimat “Cup, cup, cup. Jangan nangis. Siapa yang nakal? Kursi ya yang nakal? Ini kursinya mama marahin”. Ibu, Anda pasti tahu kursi tersebut tidak salah bukan? Anak Anda yang menabrak kursi tersebut. Jika atas segala kesalahan yang anak Anda lakukan, Bunda menyalahkan barang atau pihak lain, anak Anda tidak akan pernah belajar merasa bersalah maupun menerima kesalahan.

Pemberian berlebih

Tidak salah Anda memberikan semua kebutuhan anak, termasuk di dalamnya memberikan uang berlebihan. Namun, hal tersebut dapat membuat anak kurang menghargai apa yang ia miliki karena dengan mudah ia dapat mendapatkan segalanya dan kecenderungan menjadi anak manja pun meningkat. Ingatlah, semua yang berlebihan itu tidak baik. Berikan buah hati Anda secukupnya saja dan jangan terlalu mudah meloloskan segala yang ia inginkan.

Terlalu cepat menolong anak

Jika anak Anda melakukan kesalahan itu wajar. Ia lebih baru ada di dunia dibandingkan dengan Anak. Kesalahan dihasilkan dari pilihan yang kurang tepat. Bagaimana memilih pilihan yang tepat? Dibutuhkan pengalaman dan pertimbangan. Sabar Bunda, biarkan anak Anda belajar dari kesalahannya dan biarkan ia menerima konsekuensi dari kesalahan tersebut. Apakah tidak boleh membantu anak? Boleh, tapi tunggulah sebentar karena pada saat menerima konsekuensi atas kesalahan yang ia lakukan, anak Anda belajar dan mengingat hal-hal yang menyebabkan kesalahan tersebut, sehingga kelak kesalahan yang sama akan terjadi, semakin kecil.

Mencontohkan tindakan-tindakan yang buruk

Anak-anak melihat, mendengar, dan meniru hal-hal yang sering ia lihat dari orang-orang terdekatnya. Oleh karena itu, orang tua yang mayoritas ialah orang terdekat anak punya pengaruh besar terhadap sikap anaknya. Sebelum Anda menghukum anak karena kesalahan yang ia lakukan, berkacalah pada diri sendiri, apakah Anda melakukan hal-hal tersebut. Jangan-jangan bukan hanya anak Anda yang perlu dimarahi, tetapi Anda juga.

Terlalu banyak menuntut

Hal-hal yang dilakukan berulang-ulang dalam jangka waktu lama menghasilkan kebiasaan, kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang secara terus menerus menghasilkan budaya. Proses pembentukan kebiasaan buruk anak membutuhkan waktu lama. Jadi, jangan menuntut anak Anda untuk mengubah kebiasaan buruknya menjadi kebiasaan baik dalam waktu cepat. Selain itu, usahakan agar tuntutan Anda tidak ditumpuk menjadi satu karena anak Anda akan pusing. Dalam satu (menurut Anda) tuntutan Bunda terdapat dua tuntutan. Pertama, ubah kesalahan ataupun kebiasaan burukmu. Kedua, lakukanlah secara cepat karena orang tua kebanyakan ingin semua serba cepat dan instan. Bayangkan jika Anda menuntut tiga tuntutan (menurut Anda) kepada anak, apa yang akan terjadi?

Mendidik tanpa menjelaskan alasan dan memberikan alternatif

“Dede, kamu harus begini begini begini” atau “Nak, kamu jangan begitu begitu begitu” sebaiknya diminimalkan. Atas segala perintah maupun pengajaran, tanamkan pengertian kepada anak untuk membantunya merespon dan bersikap dengan benar. Anak bunda masih belum berpengalaman, penanaman pengertian akan membantunya belajar dan menjaga emosi.

Segala sesuatu serba harus

Bunda, sebelum menetapkan segala sesuatu, tanyakanlah dahulu pendapat anak Anda agar ia merasa dihargai sekaligus belajar mengambil keputusan. Lagipula, hal-hal yang dilakukan dengan tidak terpaksa (suka rela) akan terasa lebih mudah dilakukan.

Nah, Bunda sudah tahu beberapa hal-hal ‘salah kapra’ dalam mendidik anak bukan? Usahakan meminimalkan tindakan di atas di kemudian hari.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *