Bayi susah tidur bukan hal sepele

bayi susah tidur
Johnson’s Baby Indonesia

Satu dari 10 bayi susah tidur saat malam hari, beberapa percaya bahwa hal ini adalah sesuatu yang normal, meski menurut penelitian, hal ini mungkin beresiko lebih tinggi untuk mengidap masalah jam tidur saat mereka beranjak dewasa.

Penelitian terkini sangat jarang mengambil subjek masalah satu ini, termasuk orang tua, dan penduduk biasa pun gagal memahaminya. Salah satu penelitian, yang mengobservasi bayi berusia 6 bulan sampai 3 tahun, menemukan bahwa masalah tidur sangat umum pada usia dini. Tapi orang tua tidak selalu menangkap bendera merah seperti ngorok yang keras, dan mungkin faktor resiko pembentukan apnea tidur yang mana berpotensi penyakit sulit bernafas. Ditambah lagi, bayi yang memiliki satu atau bahkan lebih masalah dengan tidur akan 3 sampai 5 kali lipat lebih mungkin untuk memiliki masalah tidur nantinya.

Data mengindikasikan bahwa masalah tidur pada bayi bukanlah rahasia lagi. Tanda peringatan gejalanya pun sangat luas. Tapi beberapa indikasi potensi masalah pada bayi adalah suara dengkur yang keras dan sering, bahkan beberapa kali dalam seminggu, sering bangun pada tengah malam, mimpi buruk, dan rutinitas persiapan tidur yang lama (perlu sekitar 20 menit lebih sampai benar benar tidur).

Meski masalah tidur lebih sering dikategorikan sebagai masalah orang dewasa, 69 persen bayi berusia 11 bulan memiliki masalah sehubungan tidur atau sejenisnya. Meski banyak orang tua, tidak tahu apa yang harus dicari atau bagaimana seharusnya mengatasi masalah tidur yang tidak jauh lebih berat dibanding tantangan menidurkan bayi.

Pada penelitian yang disebutkan sebelumnya, terdapat 359 bayi, dan wawancara dengan ibu dari bayi yang masih berusia kurang lebih 6 bulan, sampai 3 tahun. Secara keseluruhan 10 persen orang tua mengaku bahwa bayi mereka memiliki masalah seperti bangun saat tengah malam, susah ditidurkan, dan sering kelelahan. Seringkali orang tua berkomentar bahwa masalah tidur pada bayi hanya fase biasa yang nanti dapat dilewati. Memang pernyataan tersebut benar untuk sebagian besar bayi. Tapi, ada sebagain bayi yang lain malah mengembangkan masalah tidurnya seiring pertumbuhan.

Salah satu contoh, dari hasil observasi penelitian menemukan setidaknya 35 persen bayi susah tidur dari awal berlanjut dengan beragam masalah tidur lain kurang lebih 2 tahun kemudian. Sebagai perbandingan kurang dari 10 persen bayi yang tidak memiliki masalah tidur pada awal penelitian akan memiliki sulit tidur seiring dengan bertambah umur bayi tersebut.

Sekitar 12 dan 20 persen bayi dalam masa observasi mendengkur hampir setiap malam dalam seminggu, perilaku tersebut sebenarnya termasuk tanda kemungkinan tidur apnea, tapi kebanyakan orang tua menolak untuk mengategorikan hal tersebut sebagai masalah. Meski sebagian besar bayi dengan tidur apnea sembuh dengan sendirinya, kondisi tersebut bisa berujung kegagalan akan kurang beristirahat, akademis berantakan, dan perilaku menyimpang pada beberapa anak.

Cara terbaik bagi orang tua untuk mengatasi masalah tidur adalah mencegah fase dari awal sebelum bertambah parah di masa mendatang. Sebelum bertambah parah maka untuk meningkatkan perhatian orang tua, selalu periksa kondisi bayi saat usia 6 bulan,  sebagai indikator awal, lalu periksa lagi pada umur bayi 12 bulan, maka orang tua dapat mengetahui indikator standar untuk memutuskan apakah kondisi bayi termasuk kategori masalah atau tidak. Daripada mengambil resiko kemungkinan anak akan sembuh dengan sendirinya.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *