Cara Melatih Anak Bicara Bahasa Asing

cara melatih anak bicara
Source: domain.me

Era global kini semakin memudahkan pembagian informasi antar ras, budaya, bahkan agama di negara manapun dalam rentang waktu kapanpun. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemampuan berbahasa menjadi faktor menguntungkan bagi seseorang untuk proses karir yang maju. Cara melatih anak bicara bukan lagi persoalan memperjelas kosa kata yang keluar dari mulut anak, melainkan melatih anak untuk mengerti lebih dari satu bahasa sepanjang hidupnya.

Ayah bunda mungkin tidak pernah tahu manfaat belajar bahasa asing bagi anak. Bahasa seperti gerbang mempelajari dunia. Setiap bahasa punya pola yang berhubungan dengan bahasa lain sehingga membentuk suatu tata cara literatur. Anak tidak sekedar berucap, dalam otak kecilnya, si kecil dilatih berpikir kritis, dan penyelesaian masalah. Kok bisa ? anak harus tahu perbedaan antar bahasa dan hal ini hanya bisa ditemukan dalam orang yang berpikir kritis.

Orang tua bisa saja menganggap mengajari anak bicara bahasa asing tidak semudah membalik telapak tangan. Salah besar. Justru semakin bertambahnya usia seseorang maka semakin sulit baginya mempelajari suatu bahasa. Otak anak kecil meningkat hingga dua kali lipat, terlebih pada bagian setoran bahasa. Mengenali suara dari masing – masing bahasa akan sangat membantu dirinya belajar bahasa asing di kemudian hari.

Segala hal pasti punya berbagai macam jalan. Meskipun otak anak sudah mendukung untuk diajari beragam bahasa, kalau caranya salah ya percuma saja. Karena itu, ada baiknya ayah dan bunda tahu pula langkah tepat mengajari anak bahasa asing. Perlu diingat, langkah berikut lebih melatih lidah dalam bicara dan bukan membaca literasi bahasa asing, karena hal tersebut punya cerita lain.

1. Lingkungan positif hasil mengimbangi
Keyakinan punya dampak besar dalam hidup seseorang. Otak akan merespon sesuatu yang memang dipercayai oleh empu tubuh. Semakin tidak percaya, maka otak semakin kesulitan untuk menemukan alasan melakukan suatu hal, menjadikan rasa yakin jauh lebih penting dari perkiraan orang – orang.

Lingkungan yang tepat untuk belajar bahasa mendorong dua hal yakni kenyamanan anak dan keyakinan dari lingkup eksternal. Berikan pajangan dalam bahasa asing, atau mainan yang bisa bersuara dengan bahasa asing. Mendekatkan anak pada beragam media dalam bahasa luar Indonesia akan mempermudah otak untuk mengingat.


Kedua, dukungan eksternal. Anak tidak punya kepercayaan diri, dibutuhkan reaksi orang – orang sekitar agar anak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Ekspreksi orang sekitar cenderung mendorong si kecil dalam membuat keputusan selanjutnya. Beberapa orang mungkin geli dengan anak yang bicara dalam bahasa asing, entah karena iri atau merasa tidak perlu baginya mengerti bahasa asing.

Hasil yang baik kadang butuh tindakan ekstrem. Bila ayah bunda sadar anak tidak percaya diri bicara dalam bahasa asing, segera cari penyebabnya. Kemungkinan anak merasa konyol bicara dalam bahasa di luar Indonesia bisa sebab ditertawakan. Segera jauhkan anak dari orang – orang yang tidak mendukung perkembangan belajarnya.

2. Ajari lewat pengulangan
Namanya manusia, lupa itu biasa. Tidak ada yang salah bila seseorang dengan ingatan sebaik apapun bisa terlewat beberapa ingatan. Memo, catatan, reminder, sampai dengan asisten pribadi diciptakan dengan satu tujuan : menghindarkan individu dari kesalahan hanya karena keterbatasan kemampuan otak. Demikian pula manusia.

Bahasa asing mudah dipelajar pada lima menit pertama. Kesulitan sebenarnya dalam berbahasa didapati pada mengingat masing kosa kata. Mungkin saja di hari pertama anak bisa mengingat lima sampai dengan sepuluh bahasa dengan konotasi jelas, namun esoknya anak seolah kembali normal, tidak ada anak pintar membanggakan tempo hari.

Ingatan perlu terus diasah baik oleh anak maupun dengan dukungan orang tua. Paragraf sebelumnya sudah membahas mengenai lingkungan positif. Kini ayah bunda harus rajin berkata dalam bahasa asing dengan kosa kata yang mirip untuk mengingatkan si kecil apa yang sudah dipelajari. Bahkan bunda bisa mencampur adukkan bahasa Indonesia dan asing menjadi satu.

3. Gunakan bahasa non verbal dan verbal
Manusia berkembang dengan cara yang unik. Setiap kata yang tersirat tidak selalu bermakna tersurat. Artinya, apa yang dikatakan seseorang belum tentu sama dengan perilakunya. Verbal berarti perkataan seseorang dan non verbal berarti perilaku yang mencerminkan kata – kata tersebut. Tidak perlu khawatir, anak belum masuk ke tahap ekstrem seperti memahami makna tersirat.

Visualisasi sangat penting dalam hidup anak bahkan sampai dewasa sekalipun. Gerakan besar serta permainan ekspreksi memudahkan anak untuk mengingat suatu hal. Jangan malu – malu dalam memperkenalkan suatu bahasa pada si kecil. Lepaskan keanggunan yang selama ini membelenggu bunda dan ayah dan praktekkan setiap bahasa dengan lepas.

Praktek bisa bermakna banyak hal, akan tetapi praktek non verbal yang dimadsud disini adalah mempratekkan apa yang dikatakan. Misalkan saja, orang tua memperagakan terbang ketika berkata “Flight”. Mengacungkan jempol saat bilang “guzel” (bagus atau baik dalam bahasa turki), dan membungkukkan badan kala memperkenalkan arigatou (terima kasih dalam bahasa Jepang).

4. Praktek praktek
“practice make perfect”

Kutipan diatas sungguh tepat. Tidak ada gunanya belajar suatu ilmu kalau tidak punya niat praktek ilmu tersebut. Bunda dan ayah wajib menjadi media dalam praktek bahasa anak. Tidak perlu ragu untuk leluasa berkata dalam bahasa asing di luar rumah dan ruang terbuka. Bahkan salah satu cara melatih anak bicara lebih cepat adalah memakai bahasa – bahasa tersebut sesering mungkin.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *