Insiatif dan Kesalahan: Fase Perkembangan Anak Sebelum Sekolah

fase perkembangan anak
www.ibudanbalita.com

Ada hal yang mengejutkan ketika sang buah hati masuk ke dalam fase perkembangan anak sebelum sekolah. Orang tua harus tahu tentang fase ini. Karena jika ibu tidak tahu, ibu bisa salah mengarahkan atau mendidik sang buah hati. Apalagi saat masa sebelum sekolah, tugas dan tanggungjawab semuanya ada di pungguh ibu sebagai orang tua. Setidaknya ibu harus tahu bagaimana memaksimalkan fase perkembangan sang buah hati sebelum ia masuk sekolah.

Dalam ilmu psikologi anak, ada yang disebut dengan insiatif dan kesalahan. Ini fase di mana anak sudah berusia sekitar 3 tahun, persis sebelum ia hampir siap untuk sekolah. Lalu, apa yang dimaksud dengan fase perkembangan balita berupa inisiatif dan kesalahan ini?

Sekilas Tentang Fase Perkembangan Anak

Jika ibu bukan ahli di bidang psikologi anak, ibu bisa memetakan perkembangan anak berdasarkan kebiasaan atau hal yang berlaku umum di masyararkat saja. Contohnya, anak usia sekitar 1,5 sudah mulai belajar berjalan. Sedangkan usia 2 tahun, ia sudah mulai lancar berbicara walaupun masih terbata-bata.

Namun, psikolog anak memahami lebih dalam tentang perkembangan anak. Tidak hanya bersifat fisik di mana perkembangan bisa dilihat kasat mata, tapi juga yang bersifat mental. Seperti contoh, bayi terkadang menangis jika digendong oleh seseorang. Ibu tahu mengapa? Karena pada saat bayi, ia sedang dalam fase trust atau percaya. Jika ia menangis, maka ia merasa tidak percaya karena orang yang menggendong tidak bisa memberikan rasa aman dan nyaman.

Lain hal jika anak beranjak balita. Pada saat itu, ia berada di fase otonomi di mana ia mulai berani melakukan hal yang ia mau. Ibu masih ingat kan bagaimana balita ibu ketika usianya menginjak antara 1 sampai 2 tahun sering ibu omeli lantaran melakukan hal yang berbahaya? Ia bisa saja menolak dan tetap melakukan apa yang ia mau perbuat. Di saat itulah ia masih dalam fase perkembangan anak yang disebut dengan otonomi.

Dan fase inisiatif serta kesalahan ini disaat balita ibu masuk usia 4 tahun. Apa yang dilakukan oleh si kecil di fase perkembangan ini?

Fase Inisitif dan Kesalahan

Dari istilahnya saja, mungkin ibu sudah bisa menebak apa yang akan sering dilakukan oleh anak ketika mencapai fase ini. Ia akan berinisiatif untuk melakukan sesuatu sembari terus menerus melakukan kesalahan.

Betul sekali. Ibu harus tahu anak pada fase ini memiliki rasa ingin tahu yang begitu tinggi. Itulah mengapa para psikolog anak menyarankan agar anak mendapatkan stimulus yang sebanyak-banyaknya. Ini juga saat yang tepat untuk melakukan pemetaan bakat anak. Ibu bisa konsultasi dengan psikolog anak atau bergabung denganĀ forum ibu dan balita agar ibu semakin tahu apa yang harus ibu lakukan untuk mengetahui bakat alami anak.

Banyak kesalahan yang dilakukan oleh anak pada saat itu. Rasa ingin tahunya yang begitu tinggi tidak diimbangi dengan langkah antisipasi sehingga ia bisa saja melakukan kesalahan. Ini hal yang wajar. Dan ibu bisarkan saja. Semakin banyak kesalahan yang ia lakukan itu berarti ia sedang belajar. Yang harus ibu lakukan hanya mengawasi agar kesalahan yang ia lakukan tidak berimbas fatal, terutama untuk tubuh dan kesehatannya.

Sayangnya, banyak orang tua yang justru bersifat over protective kepada anak mereka di fase perkembangan anak ini. Karena over protective ini, anak cendurung kehilangan inisiatif untuk melakukan atau belajar hal yang baru. Ia takut dimarahi oleh orang tuanya. Dan apa yang terjadi? Perkembangan anak pun kurang optimal.

Yang Perlu Ibu Lakukan Saat Anak Di Fase Inisiatif dan Kesalahan

Setidaknya ada dua poin penting yang perlu ibu lakukan untuk memaksimalkan potensi anak di fase perkembangan ini.

Yang pertama, bebaskan si kecil untuk melakukan sesuatu. Jika perlu, ibu bisa ikut serta dalam kegiatan si kecil. Ibu bisa menunjukkan hal-hal baru yang mungkin belum ia ketahui. Ibu bisa mengajak si kecil menonton konser musik barangkali ia tertarik dan mulai mau belajar alat musik. Ibu bisa membawa si kecil ke taman pintar agar ia semakin tahu ingin menjadi apa nanti ketika dewasa. Dan masih banyak lagi hal yang bisa ibu tunjukkkan kepada si kecil.

Yang kedua, awasi anak ibu. Membebaskan anak bukan berarti ibu melepaskannya begitu saja. Di sisi lain, mengawasi juga tidak boleh terlalu ketat sehingga anak merasa terkekang. Harus ada ruang di mana anak merasa bebas berkreasi.

Saat ini, yang perlu ibu lakukan adalah mengawasi ketika anak bermain internet. Beruntung jika ibu belum memperkenalkan internet. Akan tetapi, jika anak ibu sudah tahu internet, sebaiknya ibu mengawasi penggunaanya.

Banyak anak yang tiba-tiba hobi berkelahi lantaran sering melihat tayangan di video sharing tentang kekerasan. Untuk menghindari hal semacam ini, ibu bisa membuat jaringan internet sendiri di rumah di mana jaringan tersebut terbatas pada beberapa situs saja. Dengan demikian, anak tidak bisa membuka situs yang sudah ibu filter.

Namun, yang tak kalah pentingnya lagi adalah nutrisi untuk perkembangan balita. Ibu harus tetap memberikan susu Frisian Flag Karya sebagai susu balita terbaik. Nutrisi yang seimbang dilengkapi dengan pola asuh yang tetap membuat anak mampu berkembang maksimal di setiap fase perkembangan anak.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *