Jalur Pembunuh Kreativitas Anak

perkembangan kognitif
imagiplanks.com

Kreativitas anak merupakan bagian terpenting dalam hidup manusia. Dalam perjalanan meraih kesuksesan, tak jarang menjadi kreatif adalah senjata terbaik. Pintar merupakan kualitas baik, namun tanpa kreativitas, tak ada yang membedakan satu individu dengan yang lain. Ternyata, kualitas satu ini tak bisa dipelajari begitu saja di sekolah.

Peranan orang tua jauh lebih penting dari yang diperkirakan. Bahkan, beberapa orang mengaku, hambatan diri seperti rasa marah, dan tidak percaya diri justru didapat dari masa kecil. Ironisnya, orang tua yang seharusnya menjadi malaikat pelindung, justru punya kekuatan menorehkan luka terdalam pada diri anak kecil. Hal ini menjelaskan kenapa kejadian di masa kecil sangat diingat dalam karena membekas di hati.

Apa saja faktor-faktor yang bisa matikan kreativitas si kecil? Simak daftar dibawah ini:

  1. Apatisme

Apatis berarti tidak peduli atau acuh tak acuh. Sikap satu ini dibawa banyak orang di dunia modern. Tidak mau ambil andil seolah jadi trend tersendiri yang sebaiknya tidak diikuti oleh buah hati ayah bunda. Sayangnya, kadang orang tua sendiri yang justru menanamkan sifat satu ini.

Indonesia punya strata yang cukup kental. Dalam artian, dalam hidup rumah tangga ada beberapa orang yang punya kedudukan lebih tinggi, bahkan cenderung diktaktor dalam memberikan perintah atau nasihat. Anggota yang lebih muda diharapkan untuk melakukan saja apa yang sudah dipilihkan tanpa boleh bertanya atau membuat keputusan untuk dirinya sendiri.

Ada baik dan jahat dalam suatu budaya. Memang, rasa hormat itu penting, namun kemampuan memilih untuk dirinya sendiri juga tak kalah penting. Ajarkan si kecil untuk memilih minimal pakaian yang dirinya kenakan untuk aktifkan karakter peduli terhadap pilihan yang tersedia dalam hidupnya.

  1. Isolasi
    Sibuk bekerja seolah bukan hal aneh dalam dunia modern. Sayangnya, orang tua kadang lupa, anak paling tegar sekalipun tetaplah mahluk kecil yang butuh kasih sayang dari ayah bunda tercinta. Segala keperluan diserahkan pada pengasuh, yang tak jelas peduli atau tidak terhadap buah hatinya.
    Uang yang dihasilkan dan mainan yang diberikan untuk anak belum tentu bahagiakan dirinya. Apalagi kalau ditambah penjaga pribadi untuk menjauhkan anak dari orang-orang sekeliling. Pada akhir hari si kecil menginginkan sentuhan hangat dan bukan mainan dingin tak bernyawa.

Isolasi tidak melulu disadari dengan cepat. Kurangnya kontak dengan manusia dalam bentuk apapun bisa dikatakan sebagai isolasi. Bahkan anak yang tertekan akibat bully atau gangguan dari anak lain bisa timbulkan perasaan terisolasi. Selalu perhatikan seberapa sering dan baik seorang anak interaksi dengan manusia lain untuk menjauhkan faktor pembunuh kreativitas satu ini.

  1. Ekspektasi tinggi

Asia dikenal sebagai ras yang sangat mementingkan kesempurnaan. Banyak orang tua di tanah Indonesia menanyakan ranking terlebih dahulu sebelum bertanya kondisi anak yang lain. Ekspektasi bahwa semua nilai anak harusnya mencapai kata sempurna seolah wajib tanpa peduli bagaimana caranya.
Anak terlahir dengan kemampuan berbeda, dan bakat yang lain pula. Keinginan supaya anak ahli di semua bidang seolah membutakan mata banyak orang tua akan potensi diri anak. Akibatnya, anak tidak mampu menghargai dirinya sendiri bila nilai sempurna tidak diperoleh walaupun dirinya sadar adanya bakat di bidang lain.

  1. Tekanan
    Sambungan dari ekspektasi tinggi adalah tekanan yang dibebankan pada diri anak. Orang tua kadang tak sadar bahwa mengatai anak dengan kata-kata kasar tidak bijak. Proses seolah bukan lagi hal penting kalau hasil buruk. Sampai-sampai ayah bunda merasa perlu membandingkan anak dengan temannya.

    Tidak ada yang tahu betapa seorang anak berjuang lebih keras di bidang matematika supaya seperti temannya yang pandai matematika, kendati teman tersebut tidak ahli seni. Bahkan, tekanan kadang paksa anak mengambil jalan pintas, entah menghafal seluruh isi buku, ataupun mencontek. Bagaimana caranya jawaban tes mirip buku seratus persen. Yang sering dilupakan adalah, manusia seharusnya berkembang menjadi orang dan bukan robot.

  2. Kontrol
    Ada banyak hal yang harus dipelari si kecil. Inilah alasan kuat kenapa kontrol sangat diperlukan. Namun, orang tua kadang tidak sadar bedanya kontrol baik dengan yang buruk. Mengontrol jam bermain supaya kualitas tidur si kecil tetap terjaga tentu kontrol baik, lain cerita dengan mengekang gerak anak saat bermain.

    Namanya anak kecil, tentu imajinasinya sangat luas. Jangan heran bila si kecil rela berguling di kubangan lumpur demi mewujudkan gambaran di dalam kepalanya. Sayang, kalimat ‘jangan’ terlontar dari mulut bunda setiap kali buah hatinya bermain dalam bentuk apapun. Akibatnya, lambat laun si kecil malas bermain karena kontrol tidak baik dilakukan oleh ayah bunda.

  3. Pikiran pendek

Rasa benci membutakan segalanya sepertinya ungkapan yang tepat. Anak sejatinya terlahir suci. Justru, orang tua yang sering mencibir orang lain menurunkan kreativitas si kecil. Kenapa? Anak menjadi fokus pada membenci karya orang lain dibanding membangun portofolio-nya sendiri.

  1. Pesimis

Impian merupakan hal terindah yang dimiliki manusia. Apalagi, di usia yang sangat muda anak sangat gemar berandai seputar kehidupannya kelak di masa mendatang. Orang tua sebagai orang terdekat menjadi sasaran penyampaian mimpi si kecil.

Pahitnya kehidupan kadang buat orang dewasa terlalu realistis. Mimpi yang seharusnya dibangun hingga tercapai, dipatahkan dengan kalimat tidak mungkin oleh orang yang paling dipercaya buah hati. Kesadaran bahwa kreativitas anak dimulai dari kumpulan mimpi sepertinya sangat rendah di berbagai belahan dunia.(HN)

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *