Kapan Bayi Bisa Duduk Di Kursi Pesawat Jarak Jauh

kapan bayi bisa duduk
Source: Kidventurous

Globalisasi membuat batas dunia kian abu-abu. Tidak ada lagi tinggal di satu tempat yang sama dalam kurun waktu yang lama. Bahkan, mayoritas penduduk dunia minimal pernah berpergian jauh sekali, termasuk menggunakan pesawat. Kalau masih jomblo, sih, tidak ada yang perlu dipikirkan, lain cerita dengan mereka yang sudah berkeluarga. Pertanyaan paling mendasar saat bepergian jauh seperti kapan bayi bisa duduk di bangku pesawat terlontar dari mulut, sudah bukan hal aneh.

Masa pertumbuhan merupakan proses yang butuh perhatian ekstra. Bagaimana perkembangan si kecil kedepan akan sangat ditentukan dengan seberapa baik keputusan yang diambil orang tua. Inilah kenapa, jangan sampai ayah bunda salah ambil langkah. Misalkan saja, dalam konteks berpergian, terbang bersama bayi, justru pengetahuan seputar kesiapan badan bayi jauh lebih penting dibanding tips dan trik berpegian dengan pesawat.

Pada dasarnya semua bayi punya daya tahan tubuh dalam kategori serupa. Masa pertumbuhan membuat tubuh lebih fokus pada pembangunan dibanding pertahanan. Dalam artian, jika tubuh boleh memilih, memastikan kinerja jantung capai standard jauh lebih penting dibanding filter kuman dan bakteri. Bukan berarti badan tak peduli dengan adanya kemungkinan penyakit, namun daya tahan tubuh sendiri masih dalam fase pembelajaran untuk melawan kemungkinan terburuk yang masuk.

Virus, kuman, dan bakteri sudah pasti hinggap di tempat yang ramai. Lain dengan kondisi rumah yang memang dijaga agar senatiasa steril, dunia luar tidak begitu ramah. Tamu yang berkunjung sekalipun bisa jadi membawa sumber penyakit, apalagi kalau sampai lupa ganti baju, cuci tangan dan kaki. Jaminan bahwa kondisi pesawat aman untuk bayi tidak bisa dikatakan seratus persen. Toh bila memang pesawat didesain untuk bayi, factor kuman sulit untuk dihilangkan.

Terlepas dari imej mahal dan mewah, di akhir hari, pesawat tetaplah kendaraan umum. Biaya lebih banyak dikeluarkan orang tua saat naik pesawat sebetulnya hanya perpendek jarak tempuh. Ini menjelaskan kenapa naik pesawat bisa berbahaya untuk bayi. Penelitian bahkan menunjukkan beragam bagian pesawat jauh lebih kotor dibanding yang terlihat kecuali ayah bunda cukup uang untuk naik pesawat pribadi.

Infeksi sangat mungkin menyerang bayi yang naik pesawat di usia yang sangat belia. Umur dua minggu misalnya, tidak hanya badan yang tidak kuat, mental juga demikian. Ibarat pertama kali berkunjung di tempat baru, tanpa seorangpun untuk dipercaya, namun sudah dipaksa interaksi dengan  beragam sentuhan tak dikenal. Stress mampu jangkiti bayi terutama mereka yang terlahir dengan karateristik introvert.

Alasan lain kenapa bayi dua minggu sebaiknya memilih opsi kendaraan umum lain. Kadang bayi tidak bermasalah, justru bunda yang patut diperiksa. Usai melahirkan tubuh otomatis melemah. Bayangkan saja, selama lebih dua jam lamanya bunda diharapkan mengerahkan segenap tenaga untuk mendorong, belum lagi menahan rasa sakit akibat kontraksi. Lelah bukan kondisi yang tepat untuk bunda.

Tenaga bunda terkuras usai melahirkan dan masih lanjut ketika bayi lahir sekalipun. Di usia yang sangat muda, si kecil akan berharap datangnya air susu bunda kala dirinya lapar. Otomatis, mau tidak mau bunda harus mengangkat diri dan menyusui si kecil. Tahukah, bunda, tindakan menyalurkan air susu ibu ke bayi memakan hingga tiga ratus kalori. Bahkan bisa lebih dari ukuran tersebut bila durasi yang dibutuhkan jauh lebih lama dibanding standard.

Resiko terbang sangatlah tinggi bagi bunda yang baru melahirkan dan bayi yang masih muda. Penyumbatan pembuluh darah, belum lagi rasa lelah perjalanan buat bunda sebaiknya ekstra hati-hati. Bagi si kecil, terbang adalah kesempatan paling tepat untuk terserang demam dan flu. Dokter Shari Nethersole menyarankan agar bunda dan bayi selalu pastikan kondisi memang prima jika terpaksa naik pesawat terbang.

Penjelasan diatas mungkin tak berlaku bagi orang tua dengan bayi yang sudah cukup tua alias diatas dua minggu. Usia 6 bulan keatas terbilang cukup ideal untuk kondisi mepet sampai membutuhkan pesawat terbang. Kenapa?

Usia 6 bulan umumnya tahap yang paling menyenangkan dimana badan si kecil sudah cukup kokoh, dan bunda sudah sangat terbiasa dengan rutinitas merawat bayi. Jadwal tidur si kecil tak lagi berantakan sehingga prediksi kapan jam terbang yang paling tepat juga lebih tepat. Namun, tetap saja resiko berpergian dengan bayi tidak kunjung hilang.

Pertama tapi pasti adalah kemampuan duduk bayi. Ada banyak bahasan dari sekedar duduk, ingat, si kecil masih dalam tahap pembelajaran. Beberapa pesawat memang memperbolehkan bunda memangku buah hati apabila tinggi buah hati masih dibawah standard penerbangan. Tapi bukan berarti bayi benar-benar lemah dan tidak mampu diri sendiri. Hal terpenting adalah kemampuan bayi menopang dirinya sendiri supaya tidak berbahaya untuk berada dalam posisi duduk dalam waktu lama.

Bicara mengenai waktu, inilah faktor kedua yang menentukan apakah bayi siap terbang bersama orang tua. Durasi merupakan hal penting dalam membawa si kecil berpergian menggunakan kendaraan umum. Satu pesawat umumnya menampung paling tidak dua puluh orang keatas, otomatis kenyamanan adalah milik bersama.

Cinta memang milik anak kecil, tapi dalam kondisi capek semua orang mengesampingkan cinta. Usahakan bayi memang mampu duduk dalam waktu lama, atau minimal fisiknya yang mampu. Tidak ada takaran pasti kapan bayi bisa duduk dalam pesawat, yang terpenting orang tua sudah memahami kondisi buah hati agar tak menyusahkan.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *