Kemiskinan Bukan Lagi Menjadi Penyebab Masalah Tahap Perkembangan Bayi

stimulasi perkembangan motorik anak
www.friso.co.id

Ibu mungkin pernah membaca sebuah artikel atau bahkan jurnal ilmiah yang menjelaskan banyak masalah terkait dengan tahap perkembangan bayi yang dialami oleh keluarga miskin. Lebih dari itu, lebih spesifik juga disebutkan bahwasannya mereka yang tinggal di daerah terpencil hampir pasti mengalami masalah tersebut.

Tentu sangat bisa dimaklumi jika masalah tersebut terjadi di daerah seperti itu. Mereka tidak mengerti pengetahuan tentang kesehatan bayi. Di sisi lain, keterbatasan dalam hal ekonomi membuat orang tua di daerah seperti itu tidak bisa melakukan yang terbaik untuk perkembangan bayi.

Sayangnya, fakta tersebut kemudian mendatangkan sebuah kesimpulan bahwa keluarga miskin paling sering mengalami masalah tersebut. Bayi yang mereka miliki tidak berkembang secara maksimal. Padahal, kesimpulan ini tidak sepenuhnya benar. Toh banyak juga keluarga yang dalam hal ekonomi sudah mapan dan bahkan bisa dikatakan sangat kaya namun tahap tumbuh kembang bayi mereka kurang optimal. Jika itu disebabkan oleh faktor genetik, maka hal tersebut sangat bisa dimaklumi. Akan tetapi, bagaimana jika kasusnya sama dengan mereka yang tinggal di daerah pedalaman atau keluarga miskin.

Problem Yang Dialami Hampir Semua Orang Tua

Sekarang yang perlu ibu jawab adalah apa yang paling berpengaruh terhadap perkembangan sang buah hati. Mungkin ibu akan menjawab faktor utama adalah gizi. Memang benar ini menjadi faktor yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan, sudah jelas sekali bahwasannya banyak kasus bayi meninggal atau kekurangan gizi lantaran orang tua mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi setiap hari.

Namun, ada satu pertanyaan lagi yang cukup menggelitik. Mengapa bayi mengalami kekurangan gizi? Pertanyaan ini memunculkan jawaban yang berbeda-beda. Bisa saja karena mereka merupakan orang tua yang tidak memiliki dana yang cukup untuk memastikan bayi mendapatkan makanan yang bergizi tinggi. Jika bayi masih di bawah 6 bulan, masih mudah untuk memastikan bayi mendapatkan kebutuhan gizi harian. Karena pada saat itu bayi hanya mendapatkan ASI saja. Ceritanya akan berbeda ketika usianya sudah di atas 6 bulan. Pada saat itu, gizi tidak hanya didapatkan dari ASI saja melainkan juga dari makanan atau yang sering disebut dengan MPASI (makanan pendamping ASI). Apakah menu makanannya bergizi atau tidak, ini yang menjadi masalah.

Di sisi yang lain, ada juga kasus kekurangan gizi yang disebabkan tidak adanya pengetahuan tentang pemenuhan gizi bayi. Ini yang paling sering dialami oleh para orang tua, entah itu mereka dalam kondisi ekonomi yang baik atau kurang baik. Yang pasti, karena tidak adanya pengetahuan tentang bagaimana pemenuhan gizi bayi, maka tahap perkembangan bayi menjadi bermasalah.

Maka dari, para ahli kesehatan anak semakin gencar melakukan edukasi kepada orang tua yang masih memiliki bayi. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan menyebarkan artikel kesehatan perkembangan bayi, entah itu melalui website seperti www.friso.co.id atau melalui media sosial. Cara lainnya juga masih dilakukan seperti mengadakan seminar di berbagai tempat, terutama di daerah yang sering mengalami masalah dengan perkembangan anak. Semua cara yang dianggap efektif dilakukan untuk menekan adanya masalah bayi mengalami kekurangan gizi.

Tidak hanya melalui penyuluhan dengan memberikan informasi kesehatan saja. Semua orang juga bisa berpartisipasi dalam hal ini. Contohnya saja produsen susu yang semakin giat melakukan penelitian sehingga produk susu yang diproduksi semakin berkualitas. Kini, ibu bisa berikan susu balita terbaik Friso Gold 3 yang kandungan gizinya lengkap dan juga seimbang. Dengan demikian, ibu tidak perlu khawatir lagi si kecil kekurangan gizi.

Apakah Memberikan Susu Sudah Cukup?

Sebelumnya, memang dijelaskan bahwasannya memberikan susu balita yang terbaik bisa memastikan kebutuhan gizi harian si kecil bisa tercukupi. Dengan demikian, tumbuh kembang anak bisa lebih baik. Akan tetapi, ada kesalahan persepsi di masyarakat. Susu itu bukan sumber gizi utama. Maka dari itu, salah jika telah memberikan susu dan seorang ibu merasa sudah memenuhi kebutuhan gizi. Ibu bisa lihat sendiri kandungan gizi di dalam susu. Susu hanya suplemen saja. Lebih dari itu, susu juga memastikan kebutuhan gizi seimbang.

Sementara itu, sumber gizi utama tetap berasal dari makanan. Ini jika si kecil sudah mencapai usia di atas 6 bulan atau bahkan sudah balita. Ketika masih bayi, tentu tidak ada yang lain yang sebaiknya ibu lakukan selain memberikan ASI eksklusif. Ini sudah lebih sekedar cukup untuk memastikan kebutuhan gizi bayi terpenuhi.

Bagaimana jika bayi sudah mendapatkan makanan, bukan hanya ASI? Logikanya, bayi harusnya mendapatkan gizi yang lebih banyak. Namun, asalkan ibu tahu yang dibutuhkan oleh bayi untuk optimalkan tahap tumbuh kembangnya adalah gizi yang seimbang. Itu artinya gizi tidak boleh kurang dan juga tidak boleh berlebihan. Lebih parah lagi, banyak juga lho kasus bayi mengalami masalah kesehatan lantaran terlalu dini memberikan makanan. Contoh kasus yang paling sering terjadi adalah bayi mengalami susah buah air besar dan alergi. Hal tersebut tidak lain karena terlalu banyak gizi yang didapatkan oleh tubuh si kecil.

Maka dari itu, perlu sekali bagi semua orang tua untuk mempratikkan apa yang disarankan oleh para ahli kesehatan. Untuk kebaikan bayi, berikan ASI eksklusif saja. Setelah mencapai 6 bulan, baru kemudian ibu bisa memberikan makanan pendamping ASI agar tahap perkembangan bayi bisa dilalaui dengan semestinya.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *