Konsultasi Tentang Kehamilan Seputar Puasa Di Bulan Ramadhan

konsultasi tentang kehamilan seputar puasa
www.infosehatwanita.com

Bulan Ramadhan, suatu waktu yang menggembirakan bagi umat muslim di seluruh bagian dunia, terlepas dari budaya dan suku ras. Semua muslim berbondong – bondong mengamalkan diri dan menjalankan ibadah puasa selagi masih diberi umur. Tak terkecuali perempuan mengandung, dimana konsultasi tentang kehamilan meningkat pesat.

Manusia membutuhkan keyakinan yang akan suatu hal entah dari sudut pandang pengetahuan maupun religi sebelum keputusan dibuat. Sama halnya dengan puasa, pandangan Islam maupun hasil penelitian ilmiah dijadikan acuan mengenai perlu tidaknya berpuasa di bulan ini. Penting untuk diketahui bahwa kehamilan adalah anugrah dari Allah dan sebagai mahluk berakal mencoba – coba tanpa dasar bukan tindakan bijak.

Konsultasi kehamilan di bulan Ramadhan tidak hanya berfokus pada kewajiban menurut pandangan agama. Tips hamil di bulan Ramadhan serta pandangan ilmu kesehatan seputar puasa di kala hamil akan dijabarkan satu persatu. Manfaat atau tidaknya informasi yang terkandung akan kembali lagi pada bunda, apakah berkenan memakai suatu informasi yang telah diberikan untuk jadi bahan pertimbangan berpuasa atau tidak, kembali pada bunda.

Menurut pandangan Islam, Allah SWT tidak pernah mewajibkan seorang perempuan mengandung maupun menyusui turut berpuasa di bulan Ramadhan. Sebagai mahluk yang diberi kebebasan, tentu manusia diperbolehkan oleh Allah SWT untuk menentukan puasa tidaknya dengan mempertimbangkan faktor kesehatan tubuh, dan konsekuensi dari tidak berpuasa.

Salah satu pertimbangan sebelum memutuskan berpuasa ditilik dari segi kesehatan. Namanya tubuh manusia tidak ada yang serupa. Masing – masing perempuan, dengan cara unik, punya kekebalan tubuh yang berbeda – beda, menjadikan penarikan garis besar sedikit sulit. Perempuan sebaiknya tidak sekedar ikutan teman atau kata saudara tanpa dasar yang kuat. Berbicara dengan ahli kesehatan akan jauh membuat hati tenang dan janin aman.

Rapi selalu identik dengan perempuan. Kalimat seperti “Kamu anak perempuan kok jorok sih” atau “bersihkan yang benar nanti suami brewokan lho!” sebenarnya bertujuan untuk membuat perempuan terbiasa bersih. Permata dunia memang betul ada pada perempuan, karenanya tak heran kesan indah nan suci selalu turut menyertai kaum hawa. Penanaman sugesti bahwa perempuan harus rapih menjadikan banyak perempuan selalu gatal bila ruangan kotor.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan ‘asisten rumah tangga’ atau kasarnya ‘pembantu’ yang cukup terjangkau kantong. Kelas sosial tidak seberapa sekalipun bisa menyewa asisten rumah tangga. Bila memang bunda termasuk orang beruntung yang bisa menyewa asisten rumah tangga, tentu masalah lingkungan rumah bersih dan rapi tidak jadi beban pikiran, lain cerita dengan yang memilih beberes sendiri.

Tidak ada yang salah untuk menyenangi waktu berbenah. Meskipun terlihat kurang menyenangkan, ada rasa kesenangan tersendiri jika rumah berhasil terlihat cantik dari keringat sendiri. Sayang beribu sayang, tak bisa makan dan minum hanya mempersulit bunda untuk bersih – bersih di bulan puasa.

Cara terbaik mengantisipasi rumah berantakan nan kotor tentu saja, menyediakan setidaknya sehari untuk bersih – bersih besar. Toh, pembersihan rumah menyeluruh dan bersama – sama akan sangat menyenangkan bagi hubungan penghuni rumah. Begitu bunda mulai berpuasa setidaknya beban membereskan rumah sudah lebih berkurang serta bunda bisa bernafas lebih lega.

“Bagian paling disukai Allah di muka bumi adalah masjid dan bagian paling tak disukai adalah pasar”

Kalimat diatas merujuk pada kebiasaan manusia. Era dua ribu tujuh belas, rasanya kaki jauh lebih sering melangkah ke pasar dibanding mengunjungi rumah Allah. Singkat namun dalam, memang bunda harus mempertimbangkan pembagian waktu antara pergi belanja dengan mendatangi rumah Allah alias masjid.

Manusia memiliki kebutuhan sandang, papan, dan pangan, kebanyakan keluarga konvensional tanah air, belanja masih menjadi tanggung jawab perempuan yang terkenal lebih teliti. Daripada musti menghabiskan waktu mencari bahan makanan berbuka puasa dengan janin yang kian hari membesar, lebih baik bunda belanja sekali saja namun sudah cukup memenuhi kebutuhan selama Ramadhan. Menghabiskan waktu di masjid tentu lebih tentram penuh persiapan.

Segi kesehatan, tentu saja perlu dikaji secara ilmiah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa selama bunda berada dalam kondisi sehat sebelum berpuasa, sebetulnya tidak ada masalah baginya. Gosip kalau berat badan janin serta kondisinya terganggu ternyata tidak terbukti. Memang, berat badan bunda tidak sebengkak ibu yang tak berpuasa, tapi kondisi janin seharusnya tidak ada masalah.

Keuntungan tanpa ada resiko sepertinya hanya investasi abal – abal saja, demikian kehamilan di bulan puasa. Daritadi mungkin beberapa bunda skeptis terhadap fakta bahwa tidak masalah berpuasa di bulan Ramadhan, masa’ sih, tidak ada resiko sama sekali.

Rasa ragu kadang tidak menyenangkan, meskipun keraguan justru menyelamatkan bunda dari banyak hal.  Memang benar berpuasa di kala Ramadhan punya konsekuensi yang akan langsung terasa terutama pada bunda yang baru mendapati kehamilan beberapa minggu saja.

Mual di pagi hari kalau bisa dibilang ‘teman’ sejati perempuan mengandung. Seringkali rasa mual suka tidak tahu diri dan berkunjung di waktu – waktu tak menentu menjadikan kehamilan sedikit sulit ditangani. Puasa mengharuskan perempuan tidak makan seharian sehingga rasa mual tak bisa diatasi dengan cemilan sedikit demi sedikit.

Allah memang maha pengasih lagi maha penyayang. Hukum Islam menyatakan bahwa malaikat mencatat niat baik jauh sebelum seseorang melaksanakannya, dan tidak mencatat niat buruk sampai seseorang melakukan niat tersebut. Camkan niat dalam hati, sehingga apabila ada masalah yang menuntut konsultasi tentang kehamilan, bunda sudah punya catatan niat baik yang tercatat malaikat.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *