Langkah Mencegah Ruam Popok Beserta Pengenalan Pokok Masalah

mengatasi ruam popok
https://www.facebook.com/JohnsonsBabyIndonesia

Buang hajat sembarangan seolah sudah jadi kebiasaan bayi yang harap dimaklumi. Otak si kecil belum begitu paham konsep menahan kotoran tubuh dan mengeluarkan di tempat yang layak, kecuali si kecil bayi ajaib. Tak heran, pada beberapa fase, diaper atau popok sangat populer digunakan walau pada satu titik mencegah ruam popok menjadi bahasan masalah penggunaan alat bantu satu ini.

Diaper rash atau ruam popok adalah kondisi dimana kulit iritasi, disertai rasa sakit selepas memakai popok. Paling tidak, sekali dalam hidupnya bayi akan menghadapi kondisi iritasi popok yang cukup bikin pusing. Langkah pencegahan ruam popok banyak dibicarakan, dan sebaiknya memang solusi yang tepat wajib diketahui meskipun belum kejadian. Ingat, pengetahuan akan menyelamatkan hidup manusia lebih sering dari yang dikira.

Apa penyebab ruam popok?

Sebelum memahami apa itu ruam popok, ada baiknya mengenal konsep popok itu sendiri.

Popok pertama kali diciptakan oleh seorang ibu rumah tangga yang berasal dari daerah pelabuhan Amerika Serikat bernama Marion Donovan. Pada masa tersebut, bayi dipasangkan kain biasa dengan peniti sebagai penahannya, akibat dari desain inilah banyak anak kecil tak berdosa tertusuk jarum. Marion Donovan melihat masalah tersebut, kemudian mencari solusi berupa desain penahan kotoran bayi anti air berbahan dasar plastik. Ide Donovan yang berhasil dipatenkan ini merupakan cikal bakal popok.

Tahun seribu Sembilan ratus Sembilan puluh lima, seorang pengusaha wanita bernama Erika Froese membangun perusahaan motherease dengan produk utama yakni popok. Konsep yang diterapkan tak jauh berbeda yakni penggunaan kain serapan anti air yang ditahan menggunakan perekat. Pasar di Kanada menyambut baik produk motherease yang kemudian mulai merajalela di seluruh dunia. Lambat laun, perusahaan penyedia produk bayi berbondong-bondong menciptakan popok mereka sendiri.

Kini, popok jauh lebih mudah digunakan. Tidak ada lagi yang namanya ribet memasang dan mengganti popok. Bahkan, rasanya pemakaian popok tak jauh berbeda dengan celana dalam. Mayoritas popok disesuaikan dengan ukuran standard, bahkan cenderung sedikit ketat. Tujuan desain tersebut adalah memastikan popok tidak akan lepas meski dipakai dalam waktu lama, serta mampu menahan kotoran dalam jumlah tidak sedikit.

Gesekan antara kulit dengan bahan popok sudah tak terhindarkan. Apalagi, bayi yang sudah mampu berjalan pasti hawanya ingin lari kesana kemari. Tak ada lagi yang namanya sadar berapa liter air seni yang sudah ditampung popok, selama ayah bunda tidak hampiri si kecil, dirinya akan terus bermain. Disinilah bahaya ruam popok mulai menyerang buah hati ayah bunda.

Air seni pada dasarnya tidak berbahaya selama masih dalam taraf satu atau dua kali pipis sembarangan. Namun, semahal apapun popok pilihan ayah bunda, akan ada satu titik dimana penyerapan menurun karena terlalu penuh. Kumpulan air seni dalam popok lambat laun akan membentuk ruam yang cukup menyakitkan pada bayi. Awalnya, ya memang, gampang teratasi namun bila dibiarkan bisa jadi sarang jamur berbahaya.

Apa yang harus dilakukan?

Sanitasi atau kebersihan merupakan bagian penting dalam hidup manusia. Bukannya bersikap dikriminasi terhadap kuman dan bakteri, namun fungsi tubuh memerlukan lingkungan bersih tanpa gangguan tak perlu. Termasuk dalam kasus popok, kebersihan menjadi kualitas utama dalam mencegah atau mengobati ruam popok.

Kulit bayi memang terlihat bersih terlebih jika tidak buang air besar. Usai lepas popok si kecil, kadang orang tua lupa akan pembersihan menyeluruh. Kulit bayi dibiarkan begitu saja sambil mengganti popok, bahkan pada perjalanan jauh yang memerlukan kecepatan membuat orang tua malas lap kulit bayi secara menyeluruh dengan tisu basah.

Lipatan-lipatan pada kulit bayi sebetulnya sama pentingnya dengan kulit yang nampak sekali lihat. Justru, bakteri dan kuman bersembunyi dibalik lipatan dan lubang pantat bayi. Membiarkan bagian tersebut lolos dari ‘penyucian’ hanya buat kuman dan bakteri senang. Meski dalam perjalanan sekalipun usahakan tetap lap badan bayi secara menyeluruh.

Tidak banyak orang sadar penggunaan tisu basah atau sabun pada bayi bisa buat kulit kering. Padahal, konsep yang sama telah diterapkan pada wanita modern dengan bertumpuknya kosmetik yang berhubungan dengan nutrisi kulit. Buah hati ayah bunda ternyata memerlukan kebutuhan yang sama, yakni kelembaban patut dijaga.

Jamur, memang menyenangi tempat yang lembab, namun dengan catatan lokasi tersebut penuh dengan kotoran sebagai makanan pokoknya. Lain cerita dengan kulit yang telah dibersihkan secara menyeluruh. Melembabkan kulit bayi akan minimalisir kehadiran iritasi yang bisa berujung ruam. Pilih produk pelembab pantat bayi yang telah lulus uji BPOM supaya lebih yakin.

Alam akan selalu memihak manusia, tidak ada namanya elemen alam diciptakan untuk membasmi manusia selama penduduk bumi tidak duluan cari masalah. Beberapa penelitian menunjukkan jalan yang alami akan jauh lebih baik dibanding menempuh cara instant nan modern. Prinsip yang sama berlaku pula pada topik atasi ruam popok pada bayi.

Penjelasan mengenai hubungan kelembaban dengan hilangnya ruam mungkin sudah jelas, tapi krim yang dijual di pasaran belum tentu jawaban yang oke. Pada era sibuk memang, krim pelembab secara instant membantu jaga kesehatan bayi, tapi sebaiknya pada waktu luang cara alami yang dipilih. Ekspos pantat bayi pada udara segar untuk pembunuhan bakteri maksimal.

Kalau ayah bunda sudah melakukan langkah diatas dan masih saja belum berhasil, mungkin ada yang dilupakan. Mengganti popok bayi secara berkala adalah cara mencegah ruam popok paling akurat yang sering dilupakan. (HN)

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *