Madu Untuk Makanan Bayi, Baik Atau Bahaya?

makanan bayi
Source: Care.com

Tidak dapat dipungkiri kekasih Allah selalu memberikan contoh dalam menjalani kehidupan sehari – hari. Beberapa kebiasaan sampai dengan tingkah Rasul sebagai seorang panutan jadi sunnah, dalam artian bila dilakukan mendapat pahala namun jika tidak tak mengapa (bukan dosa). Terlepas dari konteks agama secara gamblang, pahala tidak melulu kadar penentu masuk surga atau neraka, melainkan pahala sebagai bentuk imbalan karena telah berbuat baik.

Salah satu kebiasaan baik Rasulullah adalah makan madu. Terang – terangan, Rasul pernah berkata “Aku menyarankan kamu meminum madu”. Pernyataan Rasul dibuktikan dengan berbagai penelitian yang ternyata madu memang bermanfaat bagi tubuh manusia karena kaya akan nutrisi. Cara konsumsi di pagi hari juga cukup mudah yakni satu sendok makan madu, larutkan dalam air putih dua ratus mili. Jangan lupa menjalankan sunnah ambil 3 nafas setiap kali menenggak air madu.

Untuk orang dewasa, meminum madu akan sangat bermanfaat, suatu kebiasaan yang jelas layak dipertahankan. Pencernaan, mulai dari mulut sampai usus dua belas jari terbangun perlahan menjadikan badan lebih segar siap menyerap makanan. Energi yang terkumpul cukup untuk jalankan aktivitas sehari – hari. Belum lagi, daya tahan tubuh meningkat, bakteri dan kuman bisa ucapkan selamat tinggal pada agenda serangan ke badan pengkonsumsi madu.

Bicara mengenai madu dan beragam manfaat pada orang dewasa sepertinya sudah sangat banyak. Kalau dibahas dalam artikel ini saja sudah cukup memakan semua halaman. Pertanyaan yang patut diajukan adalah apakah madu aman untuk bayi ? Umur berapa madu sebagai makanan bayi layak diberikan ? apakah manfaatnya akan sama ? Penasaran akan jawabannya ? mari lanjut ke penjelasan madu untuk bayi berikut ini :

Secara medis, madu tidak memiliki manfaat yang berbeda dengan orang dewasa bila diberikan pada bayi. Tetapi, asosiasi kesehatan menyatakan pemberian madu untuk bayi dibawah umur dua belas bulan sangat tidak disarankan. Mungkin bunda pernah melihat bayi dibawah umur dua belas bulan dengan santainya meminum madu, dan hal ini mendorong orang tua turut memberi madu untuk bayinya.

Menilik dari sudut pandang individu, tubuh bayi cukup beragam. Beberapa bayi dibawah umur dua belas bulan mampu konsumsi madu tanpa mendapat masalah. Sedangkan, bayi sisanya mengalami gangguan saat diberi madu kala umurnya belum mencapai satu tahun. Hal ini sangatlah wajar, dan tidak harus menjadi bahan kekhawatiran bila ternyata si kecil tidak mampu minum madu.

Pertumbuhan bayi dibawah umur satu bulan belum cukup matang. Tak perlu heran, berjalan saja belum tentu bayi mampu dalam arti sebenarnya, hanya sekedar bisa saja. Organ dalam bayi masih dalam tahap pembangunan. Otak, mata, hidung, telinga masih berusaha meningkatkan kualitasnya guna hadapi dunia di masa mendatang. Pencernaan bayi tidak usah ditanya lagi, masih sangat lemah dan belum dapat produksi asam perut untuk melawan bakteri.

Perut orang dewasa sudah sangat kuat, sehingga makan apa saja mulai dari yang terlihat biasa namun sehat sampai dengan terlihat enak namun beracun, di ‘embat’ semua. Tak heran pemakan besi, sabun, dan semacamnya tidak kunjung menemui ajal karena matangnya siklus pencernaan. Bayi berhasil mencapai pencernaan yang kokoh dan sistematis termasuk dalam konteks pertahan diri pada usia dua belas bulan atau lebih menjadikan madu bermanfaat tanpa menimbulkan resiko apapun.

Efek samping madu yang sangat jarang ditemui pada orang dewasa adalah clostridium botulinum spores. Terdengar asing? ya, karena dari namanya saja sudah cukup keren untuk bikin bingung.  Clostridium botulinum spores termasuk dalam keluarga bakteri yang memproduksi racun dalam sistem pencernaan, ibarat kata bakteri numpang yang suka bikin onar.

Memberikan madu pada bayi belia, hanya memicu aktivasi clostridium botulinum spores dalam pencernaan. Penyakit dari hasil pelepasan clostridium botulinum spores disebut dengan infant botulism atau botulism pada bayi. Sekilas terdengar remeh, padahal efeknya cukup menarik perhatian. Bayi penderita infant botulism mengalami gejala berupa badan lemas dan kesulitan beraktivitas.

Aktivitas sehari – hari, dari segi kinestetik membutuhkan 2 hal utama: Otot dan oksigen. Tanpa oksigen, otak tidak bisa berpikir dengan baik, dan tanpa otak tubuh tidak bisa bergerak leluasa. Pastikan kedunya berfungsi dengan baik supaya pertumbuhan juga tidak terganggu. Kenikmatan gerak bebas ini tidak bisa diperoleh penderita infant botulism yang mana membuat otot mati rasa dan kesulitan bernafas. Rengekan, lemas, dan nafsu makan turun drastis menjadi gejala paling utama.

Setelah mendengar resiko diatas, mungkin bunda dan ayah berpikir madu dihindari dulu saja agar kesehatan si kecil tidak terganggu. Tidak salah, namun tidak sepenuhnya benar pula. Madu masih memiliki manfaat yang sangat baik pada perkembangannya. Orang tua harus paham efek samping madu didapat jika si kecil berusia dibawah dua belas bulan. Nantikan saja ulang tahun pertama malaikat kecil ayah bunda baru berikan madu sebagai makanan bayi.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *