Maksimalisasi Kunjungan Dokter Gigi Anak

konsultasi dokter anak
www.ibudanbalita.com

Dokter gigi anak tidak selalu murah bagi sebagian besar orang. Mau bagaimana lagi, dokter juga harus mengimbangi biaya belajar medis dan alat-alat kesehatan lain sehingga agak mustahil mematok harga murah tanpa subsidi pemerintah. Bukan berarti, mengunjungi dokter gigi secara rutin adalah hal yang buruk, toh mencegah selalu lebih baik dibanding mengobati.

Sudah tahu mahal, amatlah bijak tiap kunjungan dokter gigi dimanfaatkan secara optimal. Dalam artian, setiap kali si kecil duduk di meja pemeriksaan, selalu ada perkembangan saat kunjungan berikutnya. Jangan jadikan ajang bertemu dokter gigi menjadi acara ramah tamah menanyakan kabar, tentu hal tersebut urusan lain.

Usaha di rumah menentukan mayoritas hasil pemeriksaan kesehatan gigi si kecil. Inilah kenapa, ada baiknya orang tua berusaha sendiri sehingga ketika dibawa ke hadapan dokter, vonis gigi si kecil jarang jelek. Selain tidak membuat khawatir, beban biaya pengobatan akan jauh berkurang. Memang kondisi gigi akan berbeda-beda, kendati demikian cara perawatan gigi bayi agak mirip satu sama lain, diantaranya..

Jangan remehkan gigi bayi

Gigi susu yakni susunan gigi pertama seringkali diremehkan. Anggapan bahwa bayi akan memiliki gigi baru yang lebih permanen membuat gigi susu hanya penduduk sementara yang tidak penting. Padahal, bila melihat susunan gigi lebih lanjut, seharusnya orang tua paham bahwa gigi susu maupun permanen sama pentingnya.

Kondisi gigi temporer atau gigi susu akan sangat mempengaruhi bentuk gigi permanen. Kenapa? Gigi susu merupakan penyedia utama ruang untuk gigi permanen. Bila gigi susu mengalami banyak gangguan tentu saja di masa mendatang anak akan mendapat masalah. Apalagi, gigi merupakan alat pertama dalam latihan bicara si kecil.

Menimbang fakta diatas, sangatlah tepat bila perawatan gigi sejak pertama kali muncul ke permukaan sangat penting. Usahakan orang tua selalu memperhatikan perkembangan gigi si kecil, dengan cara melakukan saran dokter, serta rajin melakukan pemeriksaan. Ingat, mengatasi masalah pada gigi susu tidak lebih mudah atau sulit dari gigi permanen.

Minimalkan gigi bolong

Gigi bolong selalu jadi masalah di usia berapapun. Bayangkan saja, orang dengan otot besar gagah perkasa sekalipun akan merasa gigi bolong bukan sesuatu yang patut diremehkan. Bahkan, bisa dibilang gigi bolong bisa merusak hari bahagia karena rasa nyut-nyutan sampai ke kepala. Dapat dipikirkan bagaimana perasaan bayi kecil yang dicubit saja sudah nangis tidak karuan.

Kuman dan bakteri merupakan dua biang kerok besar kalau sudah menyangkut gigi. Walau demikian, bukan alasan baik untuk sekedar menyalahkan keberadaan dua mahluk ciptaan tuhan tersebut bila manusia sendiri yang mengundang. Apa madsudnya?

Makanan manis cenderung lengket di gigi dan meninggalkan makanan kesukaan mahluk mikro tersebut. Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa kuman dan bakteri mendapat energi dari sisa-sisa makanan dalam mulut. Dari kesalahan kecil tersebut, kuman terus berkembang hingga gigi tidak lagi mampu bertahan sehingga bolong dan terkikis.

Anak kecil, apalagi bayi cenderung menyenangi makanan manis. Wajar saja, rasa manis membangkitkan senyum lebih lebar dibanding jenis makanan apapun. Terlebih, orang tua seringkali membiasakan bayi minum air susu dari botol yang jelas mengandung banyak gula. Usahakan menggantikan isi botol dengan air putih atau semacamnya guna mencegah bayi konsumsi segala sesuatu yang manis sebelum pergi kealam mimpi.

Gunakan pasta gigi

Usia dua tahun, perkembangan gigi akan melesat jauh. Dibanding sebelumnya, gigi susu si kecil sudah mulai berderet rapih. Bahkan, makanan mulai nyelip di sela-sela gigi makin meningkatkan resiko gigi bolong si kecil. Alangkah baiknya bila sejak dini orang tua mengajarkan cara menggosok gigi minimal dua kali sehari. Bila sudah terlambat, tidak apa, masih ada waktu untuk perbaiki kesalahan.

Odol atau pasta gigi, digunakan sebagai alat utama membersihkan gigi. Anak usia dua tahun sangatlah pantas untuk mulai menggunakan pasta gigi sebagai media pembersihan. Berita baiknya, tersedia pasta gigi anak di pasaran yang tentunya rasa bersahabat, dengan kandungan lembut cocok untuk gigi mungil buah hati ayah bunda.

Perhatikan kadar fluoride

Fluoride sangat berguna dalam membantu perkembangan gigi si kecil. Enamel, atau bagian terluar pelindung gigi punya batas kemampuan dalam melawan kuman dan bakteri yang terus mencoba gerogoti gigi. Fluoride bagaikan pasukan tambahan yang siap melawan berdampingan bersama enamel. Bedanya, fluoride bisa diberi sebagai asupan, sedangkan enamel diproduksi oleh proses reminelisasi.

Untung saja, pasta gigi di Indonesia mengandung banyak fluoride. Kendati demikian tidak semua pasta gigi dengan label khusus anak dengan rasa yang manis menyediakan fluoride. Selalu luangkan waktu untuk membaca, dan pelajari kembali kandungan yang tertera pada bagian belakang kemasan.

Siapkan pertanyaan untuk dokter gigi

Umumnya sesi berjumpa dengan dokter gigi tidaklah lama, menunggu di antrian yang makan waktu. Tentu ayah dan bunda ingin memaksimalkan waktu bertemu supaya sepadan dengan uang yang dikeluarkan sekaligus pengorbanan antrian. Inilah kenapa, mempersiapkan pertanyaan akan menghemat waktu.

Kunjungan pertama dokter gigi bukan jadi alasan bagi orang tua untuk tidak bertanya apapun. Cobalah banyak mengobrol dengan sesama orang tua yang jauh pengalaman. Dengan cara demikian, orang tua mendapat bayangan apakah gigi anak sesuai standard atau malah berbeda. Tak perlu malu pula untuk mengajukan pertanyaan yang tidak dipahami seputar gigi kepada dokter gigi anak, toh, memang itulah tugas seorang ahli kesehatan.(HN)

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *