Mengamati Tahap Tumbuh Kembang Bayi Autis

pertumbuhan gigi pada bayi
Source: North Shore Mama

Paling mudah mengetahui apakah sang buah hati autis atau tidak ketika usianya sudah menginjak balita. Bahkan, menurut pengamat perkembangan anak, balita usia 3 tahun sudah bisa dilihat apakah ia autis atau tidak. Namun, bukan berarti tanda-tanda tumbuh kembang bayi autis tidak bisa ditemukan. Setidaknya, ada beberapa gejala paling awal yang menunukkan bahwasannya bayi mengalami autis atau bisa berkembang secara normal.

Sebagai orang tua, tentu ibu tidak ingin melihat si kecil terkena autis. Dengan mengetahui gejala awal, maka ibu bisa melakukan pencegahan. Treatment lebih dini bisa diberikan agar gejala autis bisa ditangani dengan baik.

Tanda Tumbuh Kembang Bayi Autis

Masyarakat awam bisa mengetahui apakah tumbuh kembang anak normal atau mengalami gangguan. Autis pada anak ditandai dengan beberapa hal seperti anak tersebut tidak pernah menatap mata lawan bicara dan tubuhnya sering gemetar tanpa alasan.

Bagaimana dengan tanda-tanda autis pada bayi? Ini yang berbeda.

  1. Jarang Menangis

Bayi ibu sering rewel dan menangis? Ibu harus berbahagia. Justru jika bayi ibu sering diam tenang dan jarang sekali menangis perlu dicurigai adanya risiko autis pada sang buah hati.

Kebanyakan bayi menangis setiap kali merasa tidak nyaman karena panas, lapar, atau stres karena terlalu lama di dalam kamar. Itu hal yang wajar. Dan itulah tanda perkembangan bayi baik. Ketika bayi jarang sekali menangis, sebaiknya ibu segera konsultasikan dengan dokter bayi barangkali ada gejala autis.

  1. Mudah Terbangun

Memang bayi mudah sekali terbangun ketika ada suara berisik. Akan tetapi, jika tingkat sensitivitasnya begitu tinggi, ini merupakan tanda autisme pada bayi.

Tidak hanya mudah terbangun. Setiap kali mendengar suara yang tidak begitu keras, ia terkaget. Ini ciri sensitivitasnya sangat tinggi. Dan salah satu tanda bahaya.

  1. Minim Kontak Mata

Setelah bayi berusia dua atau tiga minggu, indra matanya sudah mulai berfungsi dengan baik. Pada waktu, bayi sudah mulai tertawa atau menangis sebagai reaksi dari apa yang ia lihat.

Namun, jika ibu melihat jarang sekali bayi melakukan kontak mata padahal ibu sedang mengajaknya bermain dan bercanda, mungkin saja itu tanda autis bayi. Perhatikan juga tumbuh kembang bayi apakah ada hal yang aneh lagi selain minim kontak mata seperti jarang memberikan respon meskipun sembuah senyuman atau tawa.

  1. Gerakan Tangan dan Kaki Terlalu Berlebihan

Anak autis seperti anak yang hiperaktif. Hal ini disebabkan gerakan tangan dan kakinya berlebihan. Begitu juga dengan bayi. Lihat saja bagaimana gerakan tangan dan kaki saat ibu mandikan. Jika berlebihan, itu mungkin gejala autism pada bayi.

Setidaknya empat itulah tanda adanya risiko bayi mengalami autisme. Tentu ibu tidak ingin hal tersebut terjadi pada sang buah hati. Itulah mengapa para orang tua harus melakukan pencegahan, setidaknya dengan mengetahui apa saja yang menjadi faktor penyebab anak mengalami gangguan semacam ini.

Penyebab Bayi Autis

Banyak sekali beredar informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah tentang penyebab bayi mengalami autis. Ada yang bilang ini disebabkan oleh vaksin. Ada juga yang mengatakan autis dikarenakan hal ghoib atau magic.

Akan lebih baik jika ibu memahami masalah gangguan pada bayi ini dari kaca mata medis yang bersifat ilmiah.

  • Hamil Di Masa Tua

Salah satu alasan utama mengapa para ahli kesehatan melarang pernikahan di usia senja adalah keturunan yang mengalami autis. Bahkan, sebuah penelitian menyebutkan bahwasannya perempuan yang mengandung di usia 40 tahun ke atas 50% memiliki anak dengan gangguan autisme.

  • Obat

Terkadang, ibu hamil tidak tahan dengan keluhan kesehatan yang ia alami seperti pusing atau lesu. Namun, sekalipun keluhan tersebut ibu alami, sebaiknya jangan mengkonsumsi obat. Kalaupun ibu ingin segera sembuh dengan cara mengkonsumsi obat, maka ibu pastikan obat tersebut berdasarkan resep dokter. Pasalnya, mengkonsumsi sembarang obat saat hamil bisa berdampak buruk bagi bayi. Bayi bisa lahir dalam keadaan autis.

  • Kelainan Genetika

Untuk yang satu ini, siapapun tidak bisa melakukan sesuatu. Jika alasannya genetika, maka hanya dokter yang bisa melakukan tindakan.

Peran Orang Tua Yang Memiliki Bayi Autis

Tentu ibu tidak lantas menyalahkan keadaan atau bahkan menganggap Tuhan tidak adil lantaran ibu mendapatkan bayi autis. Sebenarnya, tidak ada bedanya lho.  Hanya saja, tumbuh kembang bayi autis yang sedikit berbeda. Yang perlu ibu lakukan adalah melakukan perawatan yang tepat untuk bayi seperti ini.

Hal paling utama yang perlu dilakukan adalah melakukan terapi. Inilah mengapa ibu harus tahu tanda-tanda autis sejak bayi. Dengan mengetahui hal tersebut, ibu bisa mengajak si kecil untuk terapi sejak dini.

Ada banyak sekal jenis terapi untuk bayi autis, seperti terapi bermain, terapi sosial untuk balita, serta terapi perilaku. Tekniknya pun berbeda. Yang paling terkenal adalah terapi menggunakan lumba-lumba.

Selain terapi, tentu dukungan ibu sangat penting. Ada sebuah cerita tentang anak yang mengalami autis namun sukses di usia dewasa. Sebut saja namanya Daniel Tammet. Waktu masih kecil, ia mengalami autis. Namun, ketika dewasa, ia menjadi salah satu penulis terkenal. Selain itu, ia juga dinobatkan menjadi salah seorang pendidik yang paling jenius.

Begitu juga dengan Temple Grandin. Ia berhasil menjadi professor di bidang ilmu hewan meskipun sejak usia 3 tahun ia positif mengalami autis.

Dua orang tersebut menjadi contoh anak autis bukan anak yang berada di belakang anak-anak normal lainnya. Jelas peran orang tua sangat diperlukan untuk memaksimakan perkembangan anak autis.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *