Mengetahui Perkembangan Psikologi Anak Dari Ahlinya

psikologi anak usia dini
pedulisehat.info

Rasa percaya dan tidak percaya, tahap ini merupakan tahap paling awal dari setiap manusia, dimulai pada tahun pertama dari bayi. Pada tahap ini, anak akan banyak bergantung pada ibu, ayah, nenek, atau baby-sitter, sehingga diperlukan kasih sayang yang cukup agar anak belajar bahwa dunianya akan menjadi tempat yang menyenangkan untuk ditinggali. Orangtua harus memberikan perhatian yang cukup untuk anak, dan terus berlaku baik dan penuh kasih sayang agar perkembangan psikologi anak dapat berjalan secara optimal.

Jika anak tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup, bahkan hingga mengalami kekerasan dan ditelantarkan, anak akan membentuk sifat rasa tidak percaya pada dunia. Anak yang memiliki sifat mistrust merasa bahwa dunia adalah tempat yang kejam untuk tumbuh dan berkembang. Pada anak yang memiliki rasa percaya terhadap pengasuhnya bisa orangtua, nenek, atau baby-sitter, anak akan merasa percaya diri terhadap apa yang dilakukannya.

Diperlukan kebebasan bagi anak untuk mengeksplorasi diri dan lingkungan mereka untuk mengembangkan sifat mandiri. Namun, pengawasan oleh orangtua juga sangat diperlukan, seperti memberi tahu bahwa panci yang berada di atas kompor itu panas, atau berlari saat menyebrang di jalan tidak boleh dilakukan. Pengawasaan yang berlebihan hingga menggunakan kekerasan terhadap anak akan membentuk anak menjadi ragu-ragu akan kemampuannya sendiri dalam bertahan hidup.

Mengenal Inisiatif Yang Terjadi Pada Psikologi Anak

Tahap ini mulai berkembang pada saat anak mulai masuk playgroup atau TK dari usia 3-5 tahun. Karena anak sudah mulai mengenai dunia yang lebih luas di tempat bermainnya , bisa playgroup, TK, atau bersosialisasi dengan tetangga, akan muncul banyak tantangan baru bagi anak. Perbolehkan anak untuk bermain dengan banyak hal, dan berikan dorongan untuk anak agar mencoba banyak hal baru. Bermain tidak hanya penting bagi kehidupan sosial dan emosi anak, tapi juga membantu anak untuk mengembangkan otak dan pola pikirnya.

Pada tahap ini, orangtua harus menjadi panutan yang baik bagi anak. Kritikan juga harus dibuat seminimal mungkin karena anak akan mungkin melakukan kesalahan, seperti merusak barang secara tidak sengaja dan menumpahkan makanan. Izinkan anak untuk bermain permainan yang tidak membutuhkan waktu lama hanya untuk duduk-duduk. Anak yang dilarang dalam mengeksplorasi diri dan terlalu banyak dihukum akan mudah merasa bersalah dan gelisah.

Pada tahap keempat ini, kira-kira usia 6 tahun hingga remaja, anak mulai memfokuskan diri mereka pada ilmu dan pengetahuan. Bagi anak yang merasa dirinya tidak mampu, mereka akan mengembangkan sifat inferiority atau  merasa tidak mampu, tidak produktif, dan tidak sebaik anak lainnya.

Perlu bantuan dari guru di sekolah untuk mengarahkan anak pada kegiatan yang membangkitkan rasa pengetahuan mereka. Berikan pelajaran yang menarik,misalnya bermain dengan kartu memori atau mencari kertas yang berisi pertanyaan. Walaupun begitu, pastikan juga setiap anak di kelas dapat merasakan keberhasilan yang sama antara satu anak dengan anak lainnya untuk menghindari sifat inferiority. Ini dia tahap yang bikin bukan cuma anak, tapi juga orangtua, merasa pusing.  Tahap ini biasanya dimulai dari usia 10 sampai 20 tahun. Pada tahap ini, remaja cenderung mencari jati diri mereka.

Remaja yang berhasil mendapatkan identitas diri yang produktif, sehat, dan dianggap baik akan terbentuk menjadi remaja dengan identitas yang sehat, dan begitu juga sebaliknya. Pada remaja yang cenderung tidak berhasil dalam masa coba-coba mereka, ia akan terbentuk menjadi pribadi yang “kebingungan” tanpa arah hidup. Orangtua memiliki peran penting untuk terus mengarahkan keinginan anak agar tidak terjerumus ke pergaulan yang salah. Dengarkan apa yang menjadi keinginan anak, jika anak tertarik pada musik, masukkan anak ke tempat les musik atau luangkan waktu Anda untuk mengajarkan anak alat musik.

Tahap Perkembangan Psikologi Anak  Ketika Berusia 20 Tahun Lebih

Pada orang dewasa awal yang berhasil, rasa dibutuhkan dan kedekatan dengan teman sekitar akan terkembang. Namun, jika orang dewasa awal ini cenderung gagal, akan ada perasaan dikucilkan dari lingkungan sekitar. Pada tahap generativity vs stagnation, dimulai pada usia 40-50 tahunan, mereka akan berusaha melakukan apa saja yang dapat memberikan kontribusi terhadap generasi yang lebih muda. Hal itu bisa saja dengan berusaha menjadi panutan atau bahkan memiliki atau mengasuh anak. Pada orang dewasa yang merasa tidak mampu untuk melakukan hal tersebut, mereka akan terjebak pada tahap stagnation tidak berkembang dan merasa tidak produktif.

Tahap ini muncul ketika orang dewasa menjadi orang yang lansia, sekitar usia 60 tahun ke atas. Masa-masa telah banyak berubah, begitu pula dengan kapasitas dari tubuh dan pikiran. Biasanya, pada tahap ini, para lansia akan banyak bercerita masa muda mereka ke anak dan cucu mereka. Pada mereka yang merasa masa mudanya indah dan produktif, rasa bangga akan terkembang, dan mereka yang merasa masa mudanya salah gaul akan merasakan hampa dan sia-sia.

Ada tujuh kecerdasan yang terdapat pada anak menurut Gardner, seorang peneliti tentang psikologi anak. Linguistik, logika, matematika, spasial, kinestetik, musik, intrapersonal, interpersonal dan naturalis. Setiap anak memiliki kepekaan berbeda mengenai tahapan tersebut. Gardner mengungkapkan Multiple Intelegence kecerdasan jamak merupakan kemampuan untuk menemukan dan mencari pemecahan masalah yang dihadapi oleh anak. Menurut Hans Grothe, seorang psikologi anak dari Jerman, frekuensi terbanyak anak menangis adalah usia 2 hingga 3 tahun, dimana tangisan anak berkaitan dengan usia mereka sendiri.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *