Mulai Rasakan Manfaat Pendidikan Anak Usia Dini Di Bulan Ramadhan

pendidikan anak usia dini
www.masukuniversitas.com

Kebahagiaan bisa dicapai bila kondisi psikis dan fisik terpenuhi. Bahkan, ada beberapa orang berpendapat kondisi psikis jauh lebih penting dibanding fisik, karena psikis berhubungan dengan memperkejakan tubuh bukan menyediakan ‘mesin yang baik’. Agama harus ditempuh dari pendidikan anak usia dini, termasuk agama Islam.

Bulan Ramadhan merupakan bulan suci, dimana umat Islam berbondong – bondong memperbaiki diri. Amalan menjadi seorang pengajar sebetulnya cukup besar, walaupun resikonya sepadan, tak heran banyak instansi pengajaran Islam berdiri dari mahal sampai gratis. Selagi anak masih kecil, tidak ada salahnya mencarikan guru baginya

 Menurut surah Az Zumar ayat 9 : “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang ber – akallah yang dapat menerima pelajaran.”

Ayat tersebut mengajarkan betapa pentingnya belajar, tidak hanya berbicara mengenai pelajaran alam namun juga pelajaran karakter diri, dan agama. Tidak perlu membebani otak anak dengan pelajaran berat, belajar agama seharusnya berfokus pada akhlak, yang tidak bisa ditemukan pada saat dirinya beranjak dewasa. Selama anak mau dan mampu dukung saja keinginan baik seperti belajar.

Jaman sekarang, masjid sepertinya hanya identik untuk beribadah. Sebenarnya, pada era Rasul, masjid justru menjadi tempat beribadah, berbincang hal bermanfaat, dan belajar ilmu. Bahkan, masjid yang didirikan para sahabat memiliki perpustakaan di dalamnya. Tidak perlu merasa aneh, tidak ada salahnya mendaftarkan anak pada pengajian di masjid atau tempat belajar lain. Jangan salah, dari segi ilmiah sudah dijelaskan fungsi pendidikan anak di usia dini.

  1. Perkembangan otak

Pada usia belia, otak anak berkembang dengan sangat cepat, seperti mengejar deadline. Menurut penemuan psikologis, bagian otak depan berkembang paling cepat di usia tiga sampai 6 tahun. Area depan memiliki daftar tugas yakni mengatur, merencanakan, menghubungkan sebab akibat dan menjaga fokus pemiliki pikiran. Sayangnya, hanya berdiam diri di rumah tanpa kerjaan tidak membantu otak berkembang.

Mengaji, atau mendengarkan ustadz atau guru berbicara akan melatih fokus anak. Pada saat belajar, entah mengaji atau kegiatan belajar lain, secara tidak langsung anak belajar membagi tugas dari tangan, suara, sampai dengan kemana harus melihat. Anak menjadi terbiasa untuk menyelesaikan suatu tugas dengan teratur dan strategis. Ditambah lagi, pelajaran mengaji memiliki sambung – sambungan huruf yang bisa melatih anak menemukan suatu pola.

  1. Peningkatan kemampuan komunikasi

Manusia diciptakan sebagai mahluk sosial. Artinya, manusia tidak bisa hidup sendirian, kebutuhan manusia harus dipenuhi dengan membantu satu sama lain. Ilusi bahwa manusia bisa bertahan sendiri mendorong kebutuhan komunikasi dengan benar menjadi tinggi. Mempelajari dasar berbicara dengan manusia lain, bersikap, serta bertindak bukan sesuatu yang bisa dipelajari lewat buku teks pelajaran.

Komunikasi antar dua insan harus disertai perasaan dalam bentuk apapun. Bahasa tubuh, dan tutur kata kalimat bisa berarti banyak hal. Sosial memaksa semua individu memahami apa yang orang tidak katakan secara langsung dan merespon dengan tepat. Menyadari pentingnya berkomunikasi pada anak tentu ide yang sangat bagus untuk mengajari anak berkomunikasi dengan teman sebayanya di usia belia.

PAUD, kindargarden, sekolah formal, atau pengajian anak sebetulnya memiliki lingkungan yang sama yakni kumpulan anak – anak dengan usia sama. Sekilas, sepertinya anak tidak berkomunikasi dengan baik, toh apa, sih, pembicaraan anak biasanya. Namun, di usia belia atau sebelum enam tahun, otak yang bertanggung jawab untuk komunikasi dan perasaan dengan sesama meningkat dengan pesat.

Menempatkan anak dengan guru privat bukan solusi yang baik. Ketakutan orang tua anak kena bully dan semacamnya atau sekedar merasa sekolah memang kurang penting menjadikan minat pendidikan anak turun. Perlu ditekankan, sekolah memang menjadi batu loncatan pendidikan, cepat atau lambat ayah bunda harus membiarkan buah hatinya menghadapi masalah dengan caranya sendiri, termasuk pergaulan.

  1. Lebih siap sekolah

“Ah nanti saja masukkan anak ke sekolah, ‘kan si kecil baru mulai belajar di sekolah dasar”

Seberapa sering pikiran satu ini terbesit di benak anda ? logikanya memang anak baru benar – benar menuntut ilmu di sekolah dasar. Apakah berarti anak tidak memerlukan pendidikan di usia dini ?

Rutinitas bangun pagi, mandi, sarapan, bersiap ke sekolah adalah lingkaran yang bisa dibilang memicu rasa bosan, tapi tetap saja rutinitas adalah bagian hidup. Seorang anak yang semasa kecilnya dihabiskan dengan beribu waktu luang tidak akan menghargai waktu bekerja dan waktu luang. Semangat si kecil menurun karena tidak ada pelampiasan ketika mengikuti rutinitas pagi orang tua  tidak diberi sarana.

Pendidikan di usia belia menuntut anak bangun pagi, dan melakukan serangkaian aktivitas seharian. Hukuman terlambat tidak sekeras ketika dirinya duduk di bangku sekolah dasar. Anak bisa merasa kaget jika suatu hari waktu bermainnya direnggut untuk pergi ke sekolah dasar. Merengek dan marah sudah biasa bagi anak yang tidak menghadiri pendidikan di bawah sekolah dasar.

Penelitian menunjukkan anak yang menghadiri paud, TK, atau tempat pengajian (semacamnya) lebih berhasil di sekolah dibanding yang tidak. Wajar saja, pendidikan anak usia dini tidak sekedar belajar baca tulis akan tetapi manfaatnya lebih dari itu.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *