Pendidikan Karakter Anak Sebagai Pemimpin Masa Depan

pentingnya pendidikan karakter anak
www.ibudanbalita.com

‘Berikan aku seribu orang tua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncang dunia’. Familiarkah anda dengan kutipan presiden pertama Republik Indonesa, IR. Soekarno Hatta? Ya, tidak dapat dipungkiri karakter adalah faktor penting dalam pertumbuhan anak. Tak heran pendidikan karakter anak yang sejalan dengan visi presiden era 2017 kini makin diminati banyak orang tua.

Sebagai generasi pemimpin tentu butuh persiapan yang matang. Pemimpin terkemuka di dunia tidak mungkin jadi hanya dengan sistem ks (kebut semalam). Butuh proses dan persiapan matang untuk masuk dalam tahap pemimpin. Bahkan, setiap orang harus mampu memimpin dirinya sendiri baru bisa memimpin kelompok menuju objektif (tujuan).

Faktor mendidik generasi depan bisa dibilang gampang – gampang susah. Masa kecil pemimpin harus selaras dengan perilaku yang diinginkan pada masa mendatang. Karena anak sangat bergantung pada orang tua sebagai manusia pertama yang menjadi panutan, tentu langkah membentuk karakter pemimpin anak harus dimulai dari orang tua. Beberapa hal harus dipahami orang tua agar tidak salah langkah, bisa – bisa merusak karakter si kecil, berikut ini daftar pembentuk karakter anak:

1.Katakan tidak
Seorang pemimpin adalah orang yang sadar bahwa segalanya tidak selalu sesuai dengan pemikirannya. Ragam latar belakang, demografis, budaya, dan kepercayaan menjadikan setiap orang punya suara tersendiri, pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu mendengarkan dan memodifikasi pemikiran pribadi dengan yang lain sehingga membentuk visi baru. Masalahnya, penolakan tidak selalu dinikmati semua orang.

Orang tua dengan kasih sayang besar kadang sulit menolak permintaan anak. Melihat wajah sedih, atau murung sudah cukup meluluh lantahkan hati ayah dan bunda. Pengorbanan sejati orang tua bukan menuruti keinginan anak sepanjang waktu melainkan berani berdiri dan berkata tidak dengan lantang dan jelas. Menyakitkan memang, tapi hal ini jauh lebih baik dibanding si kecil mengenal penolakan dan kaget sendiri.

2. Berikan kegagalan
Gagal, suatu hal yang tidak pernah diharapkan siapapun. Namanya hidup tidak selalu diatas, kadang bisa saja dibawah. Sebetulnya batal berhasil bukan hal aneh lagi dalam hidup, malahan sudah sangat lumrah. Kalau tidak pernah gagal, maka tak ada artinya rasa keberhasilan. Sama halnya dengan penolakan anak harus mengenal arti gagal.

Pada masa kecil, gagal bisa direncanakan. Orang tua tentu paham betul sampai mana batas kemampuan anak. Olah raga misalnya, ayah tahu seberapa cepat anak bisa berlari. Nah, dengan mengadakan lomba lari tanpa menahan diri, anak sudah dipastikan kalah. Alih – alih mengejek anak, berikan motivasi untuk mengalahkan ayah di lain hari dalam bidang yang sama yakni lomba berlari.

3. Usaha saja sudah bagus
Seorang guru asing membagikan raport pada muridnya yang multi nasional, termasuk warga Indonesia. Tatkakala orang tua bertanya rangking berapa anak semester ini, guru kontan tanya balik kenapa orang Indonesia sangat mementingkan pencapaian rangking. Cerita tersebut cukup menggambarkan fenomena dan juga kesalahan banyak orang tua di Indonesia bahkan Asia.

Geografis budaya asia memang menunjukkan pentingnya hirarki. Artinya, penduduk asia sudah menanamkan sifat ingin selalu di tingkat atas agar merasa dihormati, hal berbeda ditemukan pada warga barat yang lebih mementingkan kesetaraan. Meski budaya sudah tertanam dari dulu, tidak ada salahnya memodifikasi ke arah yang lebih baik.

Mengincar rangking terbaik tidak keliru, tapi obsesi mendapat rangking nomor satu baru dipertanyakan. Sampai – sampai beberapa orang tua rela mempermalukan anak dengan memarahi di depan umum atau mengancam. Obsesi tanpa melihat usaha anak malah bisa berujung orientasi hasil dengan cara tidak jujur. Wajar saja tingkat mencontek dan plagiarisme di Indonesia patut dipertimbangkan.

Perhatikan anak dalam mencapai tujuan. Seorang pemimpin yang baik sadar betul bahwa segalanya perlu proses, dan hasil hanya bonus dari proses. Kalau anak sudah melakukan yang terbaik, puji saja dan bubuhkan semangat untuk terus mencoba agar menjadi manusia lebih baik lagi di kemudian hari.

4. Rem pujian
Tidak ada yang salah dengan pujian. Senyawa endorphin yang memicu rasa senang dilepaskan ketika tubuh mendengar hal baik akan sesuatu. Tiap kali anak melakukan hal yang patut diberi tepuk tangan, jangan malu – malu mengeluarkan pujian. Catatan penting bahwa lontaran pujian paling tepat pada saat ‘anak melakukan hal yang patut diberi tepuk tangan’ bukan setiap saat.

Pujian memang menambah semangat, tapi berlebihan malah bisa menjadi kesombongan. Rasa sombong menutup jalur perkembangan, dan menjadi fondasi seorang diktaktor. Pemimpin yang baik selalu tidak puas dengan dirinya sendiri sehingga berkeinginan untuk terus belajar hal baru, hal yag tidak diketahui agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

5. Jujur
Anak kecil memang masih polos, dirinya akan percaya apapun yang anda katakan. Masalahnya, terkadang orang tua memanfaatkan ketidaktahuan anak dengan mengarang beragam hukuman dan hadiah yang nanti akan diberikan. Ditambah lagi perilaku orang tua yang tidak sesuai dengan perkataan akan membentuk anggapan bahwa tidak apa asal omong saja tanpa berperilaku sesuai.

Anda, sebagai orang tua harus benar – benar memperhatikan perilaku, terutama di depan anak. Kalau anda ingin anak menyapa semua orang tanpa rasa malu, anda harus mempraktekkan perkataan anda tersebut. Pendidikan karakter anak akan gagal total bila si kecil sadar bahwa orang tua hanya bisa ngomong saja.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *