Penyebab Tumbuh Kembang Anak Kurang Optimal Padahal Banyak Permainan Kecerdasan

tumbuh kembang anak
Ibu dan Balita

Semakin banyak permainan yang bisa mengasah kecerdasan anak justru membuat tumbuh kembang anak kurang optimal. Kenapa demikian?

Ibu bisa lihat sekarang ini justru orang-orang sukses berasal dari keluarga yang kurang mampu. Pada masa kecilnya, mereka tidak mendapatkan permainan yang bagus seperti anak-anak yang lahir dari keluarga kaya. Pendidikannya juga tidak bisa dikatakan terbaik. Tapi, mengapa justru perkembangan anak seperti itu justru lebih baik daripada anak yang sudah di fasilitasi oleh orang tua mereka?

Mungkin ini yang menjadikan kelas parenting untuk orang tua itu sangat penting. Karena pada dasarnya tumbuh kembang balita itu tidak dipengaruhi oleh fasilitas apa saja yang sudah diberikan tapi bagaimana orang tua mengawasi dan memberikan perhatian kepada anak.

Banyak Permainan, Banyak Waktu yang Terbuang

Seharusnya permainan yang katanya mengasah kecerdasan dan ketrampilan anak itu menjadi media saja. Permainan tersebut akan membuat anak berkembang lebih cepat.

Sayangnya, banyak orang tua yang tidak menyadari hal tersebut. Justru permainan membuat orang tua seolah tidak lagi perlu meluangkan waktu dan perhatian untuk sang buah hati. Mereka sudah memberikan permainan dengan harga yang mahal sehingga anak akan berkembang dengan sendirinya.

Itu adalah kenyataan buruk saat ini. Saat anak memainkan game atau mainan, orang tua sibuk dengan kesibukannya sendiri. Wajar saja jika banyak anak yang susah sekali jika diberi nasehat oleh orang tuanya. Karena semenjak kecil, mereka tidak merasa ada ikatan antara anak dengan orang tua.

Permainan sebagai Pengalihan

Apa yang bisa membuat anak tidak merengek nangis? Kebanyakan ia tidak akan menangis lagi jika sudah mendapatkan gadget atau mainan lainnya. Dan ini menjadi kebiasaan buruk karena setiap kali anak menangis maka obatnya adalah gadget.

ini seolah permainan dijadikan sebagai pengalihan saja. Jika hal ini tersebut dilakukan, bukan tidak mungkin anak akan mengalami ketergantungan dengan gadget.

Padahal seharusnya semakin dewasa anak harus semakin sering diajak komunikasi. Saat ia menangis, orang tua harus rajin berkomunikasi dan menanyakan kenapa menangis, bukan langsung memberikan mainan.

Lebih dari itu, ada juga orang tua yang memberikan permainan lantaran mereka ingin mengerjakan pekerjaan setiap hari. Jadi, agar anak tidak mengganggu orang tua bekerja, anak tersebut diberi permainan.

Kebiasan ini jelas kurang baik untuk perkembangan balita. Saat ia tumbuh, ia membutuhkan kehadian orang tua, bukan kehadiran permainan. Permainan hanya media saja agar ia lebih mudah dan lebih cepat berkembang. Permainan bukan media utama, tapi komplementer atau pelengkap saja.

Tentu saja bukan hanya permainan saja yang berpengaruh terhadap perkembangan si kecil. Nutrisi juga tak kalah penting. Sayangnya banyak masyarakat yang tidak begitu pedulu dengan nutrisi. Khususnya ketika balita sudah mencapai usia 2 tahun ke atas, kebanyakan mereka tidak memberikan susu. Alasannya sangat klise, karena balita mereka sudah mengkonsumsi berbagai jenis minuman selain susu.

Memang balita sudah mendapatkan asupan gizi dari berbagai jenis minuman dan makanan. Hanya saja, susu tetap harus dijadikan sumber nutrisi harian sang buah hati. Karena hanya dengan nutrisi yang seimbang, tumbuh kembang si kecil akan optimal.

Informasi ini tidak lantas membuat ibu tidak perlu memberikan permainan untuk si kecil. Tetap saja permainan itu diperlukan hanya saja ada batasannya. Jangan sampai justru permainan menggantikan peran ibu sebagai orang tua yang seharusnya hadir di sepanjang perkembangannya.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *