School Bullying dan Dampaknya Terhadap Tumbuh Kembang Anak

tumbuh kembang anak
Friso Indonesia

Salah satu penyebab kenapa ada anak tiba-tiba tidak mau berangkat sekolah karena ia menjadi korban bully. Awalnya, ia sangat antusias untuk pergi ke sekolah. Namun, tiba-tiba ia malas, menolak, dan bahkan menangis jika mau berangkat sekolah.

School bullying memang bukan isu yang baru lagi. Isu ini sudah menyeruak jauh-jauh hari. Itulah mengapa pemerintah dengan berbagai elemen mengkampanyekan tidak ada bullying di lingkungan sekolah dan juga di masyarakat. Bahkan, ada juga pemerintah kota tertentu yang mencanangkan program bebas bullying pada anak. Hal ini disebabkan pengaruh buruk yang bisa terjadi terhadap tumbuh kembang anak.

Sebenarnya, tidak hanya korban bully saja yang mendapatkan imbas buruknya. Efek negatif juga akan dialami anak yang melakukan bully.

Dampak Buruk Terhadap Pelaku Bully

Sangat disayangkan jika orang tua tidak tanggap terhadap hal ini. Mereka hanya tahu jika anak ketika berada di dalam rumah bertingkah baik. Mereka tidak melihat bagaimana anak bersosialisasi dengan teman.

Karena bully tidak hanya berdampak buruk bagi perkembangan anak yang menjadi korban tapi juga pelaku, setiap orang harus waspada. Jangan sampai tertipu dengan kelakukan baik di rumah padahal ia terbiasa dengan bully di luar rumah.

Anak yang sering melakukan bullying cenderung menjadi anak yang nakal. Apalagi bully tersebut dilakukan dengan sekelompok anak yang lain. Mereka menganggap bully merupakan hal yang menyenangkan karena mereka sok menjadi pemberani dan membuat orang lain tersakiti dan takut mereka.

Jika hal ini tidak dihentikan, bukan tidak mungkin perilaku buruk ini bisa terus terjadi ketika dewasa nanti. Kenakalan remaja pun ternyata tidak lepas dengan masalah sepele ini.

Dampak Buruk terhadap Korban Bully

Sudah sering terjadi anak yang terkena atau korban bully tiba-tiba menjadi pendiam. Ia tidak mau bersosialisasi dengan anak yang lain karena khawatir di bully. Lebih-lebih lagi, ia tidak mau berekspresi sehingga susah berkembang. Jelas sekali hal ini akan berpengaruh buruk terhadap tumbuh kembangnya.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi jika anak yang pernah menjadi korban bully menaruh dendam kepada orang lain. Ketika ia dewasa, ia akan melampiaskan dendam tersebut karena merasa tersiksa waktu kecil menjadi korban bully.

Tentu saja setiap orang tidak ingin anaknya menjadi pelaku atau korban bully karena jelas hal ini berdampak buruk terhadap perkembangan anak terutama perkembangan psikologinya.

Stop bullying menjadi kampanye yang sangat penting akhir-akhir ini. Selain untuk melindungi anak, kampanye ini juga akan menurunkan tingkat kenakalan pada anak remaja. Karena ketika sejak kecil anak diajarkan tentang respect terhadap sesama, maka mereka tidak akan tumbuh menjadi pribadi yang angkuh.

Kampaye ini jelas bukan tugas pemerintah atau sekolah semata. Orang tua harus ikut serta dalam melakukan kampanye ini. Sebagai orang tua, ibu harus lebih memperhatikan apa yang dilakukan anak setiap hari. Pastikan ibu memiliki quality time dengan si kecil untuk menjalin komunikasi. Ibu bisa bertanya seputar apa saja yang dilakukan di sekolah dan siapa saja teman bermain di sekolah.

Penting juga pihak sekolah bersinergi dengan orang tua. Sekolah harus menyediakan pertemuan khusus dengan orang tua murid untuk membahas masalah seputar perkembangan anak mereka masing-masing. Pertemuan tersebut tidak harus bersifat formal. Karena tujuannya untuk memastikan tidak ada bullying di sekolah, pihak sekolah dan orang tua harus berkomunikasi dan terbuka satu sama lain tentang perilaku anak ketika di sekolah dan juga di rumah.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *