Tindakan Kecil yang Berdampak Pada Pendidikan Karakter Anak

cara melatih anak bicara
Source: domain.me

Pendidikan karakter anak umumnya topik yang cukup berat. Hal ini ditandai dengan training seputar pembentukan karakter si kecil selalu laku di pasaran. Memang, buah hati ayah bunda tergolong manusia dinamis yang tidak selalu stagnan, alias ada saja tantangan baru yang musti diatasi. Apalagi, masa kecil anak berpengaruh besar terhadap kualitas moral dan norma di kehidupannya kelak.

Indonesia, Amerika, Arab, negara maju sekalipun kadang masih bisa salah dalam mendidik anak. Tidak perlu khawatir kalau ayah bunda masih salah, toh tidak kata terlambat dalam memperbaiki diri. Nah, langsung saja ini dia tindakan pembentuk karakter anak yang orang tua wajib tahu:

  1. Berantakan itu biasa
    Pulang, dan melihat dapur berantakan, kira-kira apa reaksi ayah bunda? Mengamuk kah? Anak dihukum? Atau ada yang lain?

    Reaksi negatif berupa kemarahan tanpa mempertanyakan tujuan anak, justru berbahaya bagi karakternya kelak. Seseorang yang terbiasa berfokus pada hasil, dan pikirannya sendiri tanpa mempertanyakan alasan tindakan seseorang merupakan cerminan dari sikap orang tua di masa kecil. Inilah kenapa banyak sekali demo yang sebetulnya minim solusi dan hanya menebalkan masalah yang semua orang sudah tahu.

    Luangkan sedikit waktu untuk komunikasi dengan anak, mengapa ruangan bisa demikian berantakan. Ayah dan bunda mungkin saja menemukan sesuatu yang menarik, misalkan dapur berantakan karena anak ingin membuatkan telur dadar untuk orang tua yang baru dipelajari tempo hari. Perlahan tapi pasti berikan contoh dan arahan bagaimana melakukan sesuatu dengan rapi.

  2. Hadiah kepercayaan dan tanggung jawab
    Anak kecil bersih-bersih rumah sendiri, hmm pasti konten laku di kalangan ibu-ibu. Biasanya orang tua secara otomatis memberikan hadiah, entah mainan atau tambahan uang saku karena mau mandiri. Padahal, ada jalan yang jauh lebih baik untuk menghargai peningkatan usaha anak.

    Kepercayaan itu mahal harganya, didapat susah, kalaus sampai salah bisa berabe. Sejauh buah hati hidup, segala sesuatu terpenuhi. Tanpa orang tua sadari terbesit di benak anak untuk melakukan hal-hal yang dilakukan orang dewasa, apalagi jika sudah dicoba dan memang mampu. Daripada memberi anak sesuatu yang bersifat materialistis, lebih baik berikan tanggung jawab yang jauh lebih berkesan di hati anak.

    Menyapu rumah, atau membersihkan mainan sendiri adalah 2 contoh kegiatan yang sangat mungkin dilakukan anak. Sekilas sepertinya tidak ada artinya bagi si kecil mempunyai tanggung jawab merapikan mainan sendiri. Meskipun, dengan diberi tanggung jawab si kecil akan belajar bahwa dirinya harus memberi bukti untuk peroleh kepercayaan, bahwa tanggung jawab bukan sesuatu yang diberikan cuma-cuma.

  3. Berani kotor itu baik

“Adek jangan deket lumpur! Nanti kamu kotor lagi!” atau “Awas, itu ada kubangan!”. Coba renungkan sebentar, seberapa sering kalimat-kalimat tersebut terlontar dari mulut bunda?
Aktifnya anak sering disertai bunda yang mengomel di belakang. Seolah-olah membersihkan noda di baju atau malah memandikan anak akan pertaruhkan nyawa. Karakter dasar manusia, penasaran, merupakan titik perkembangan bangsa manusia. Kalau Thomas Alfa Edison tidak penasaran, mungkin lampu tak pernah diciptakan. Jika Ibnu Sina tak punya rasa ingin tahu, bisa saja ilmu kedokteran begitu-begitu saja. Apa salahnya jika anak demikian?

Melihat adanya tanah baru dengan objek tak dikenal, atau anak ingin olah fisik lebih lama biasanya didukung keinginan eksplorisasi. Saat bunda terlalu sering melarang, lambat laun anak akan menyerah dan mengidahkan rasa tertarik dari segi apapun. Inilah kenapa, lebih baik bunda biarkan anak berpetualang walau kotor sedikit dibanding masa depannya terhambat.

  1. Penanganan resiko
    Kebiasaan yang cukup lucu beredar di Indonesia adalah menyalahkan barang tiap kali anak terantuk atau jatuh. Padahal kalau dipikir-pikir, barang ‘kan tidak bergerak, dosa objek mati dimana?

    Ya, kebiasaan membela anak ketika mendapat bencana tidak membantu perkembangan karakter anak. Malahan, buah hati ayah bunda tidak akan mampu evaluasi diri. Contoh, kalau anak terantuk meja, berarti kemampuan koordinasinya sangat lemah, sehingga lain kali anak akan memperhitungkan gerakan dengan lebih matang. Melindungi itu boleh, tapi tidak perlu berlebihan sampai si kecil berubah jadi superior.

  2. Anak punya cara kompromi

Berbagi bagi anak mungkin sedikit sulit. Tak jarang orang tua sengaja menarik paksa atau membagi secara rata cemilan yang ada di rumah. Anggapan bahwa anak pasti rakus dan tak mau berbagi seolah sudah melekat di kepala.

Anak mungkin masih polos, secara keilmuan belum tahu banyak. Kendati demikian kalau masalah empati dan berbagi, si kecil bisa dibilang jagonya. Bila memang ada 2 atau lebih anak dalam rumah, biarkan mereka berdiskusi sendiri mengenai pembagian cemilan. Ingat, di masa depan kelak, anak mau tidak mau harus memiliki kemampuan negoisasi.

  1. Di awal pasti sulit
    Tak satupun orang senang mendengar kata gagal. Masalahnya ketika gagal, ayah dan bunda tidak mendorong malah ‘menghibur’ anak dan membiarkan si kecil menjauh dari kegiatan yang membuatnya gagal. Tindakan inilah yang membuat anak gampang menyerah, dan malas berusaha mencapai yang terbaik.

Segala sesuatu di awal pasti sulit. Orang-orang hebat di dunia berawal dari anak kecil yang tak tahu apapun. Perbedaan orang gagal dengan orang sukses adalah bagaimana mereka menghadapi kegagalan. Tidak ada yang salah dengan kegagalan, justru itulah bagian hidup dimana seseorang dapat berkembang. Jadikan dukungan terhadap kegagalan sebagai bagian pendidikan karakter anak.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *