Tips Makan Demi Kesehatan Pencernaan Bayi

Kesehatan Pencernaan Bayi
Source: Mother & Baby

Makan merupakan sesi yang penting dalam kehidupan manusia. Terlepas dari makan enak bisa mendorong kebahagiaan namun juga makan merupakan sumber asupan gizi. Kesehatan pencernaan bayi menjadi faktor penting untuk tumbuh kembangnya, maka dari itu Bayi sangat memerlukan cara makan tepat demi kesehatan pencernaan bayi. Apa sajakah tips tersebut?

01. Konsentrasi makan
Acara tv kesukaan seolah menjadi senjata andalan orang tua setiap kali bayi kesulitan makan. Ketika musik kartun dimulai badan bayi otomatis diam dan duduk manis menonton karakter yang ia sukai dan orang tua tinggal menyuapi makanan, toh mulut bayi sudah suka rela terbuka. Sekilas memang menonton tv atau bermain gadget untuk mengalihkan perhatian bayi lari dari sesi makan memang cukup efektif. Bahkan, terkadang malah bayi terlebih yang sudah berusia 1 tahun sendiri yang meminta untuk makan sambil menonton, ayah dan bunda sih, senang karena masalah gizi tidak tercukupi seolah teratasi dengan cukup baik. Benarkah demikian adanya atau hanya anggapan belaka?

Kinerja tubuh tidak selalu seperti yang terlihat. Hanya karena, bayi makan dengan tenang saat menonton tv bak sungai jernih, bukan berarti tidak ada ombak yang terjadi dalam tubuh bayi. Strategi pengalihan perhatian agar bayi tenang makan bak bunga mawar, harum indah, namun berduri tajam menyimpan bahaya. Menurut ilmu kesehatan ternyata proses pencernaan berbanding terbalik dengan sesi makan. Ketika bayi menonton atau dialihkan perhatian saat makan, artinya otak harus bekerja multi tasking. Satu sisi mencoba mencerna makanan bayi dan sisi lain mengontrol perubahan emosi saat bayi menonton acara tv. Pada satu titik, otak akan memutuskan berfokus pada tv sehingga pencernaan berhenti.

Gendut, lemak bertumpuk, bisa jadi yang terpikir sekilas bila membicarakan berhentinya pencernaan saat bayi makan, padahal bukan 2 hal itu yang harus dipikirkan. Mari di analogikan, bila seseorang tidak didengarkan setiap kali berbicara, maukah dia berbicara untuk kedua kalinya ? tentu tidak. Orang tersebut memilih bungkam dibanding berbicara namun tidak pernah didengarkan oleh siapapun. Sama halnya dengan pencernaan. Ketika pencernaan tidak dihiraukan oleh pikiran, tingkat rasa peka pencernaan menjadi berkurang. Akibatnya, saat ada resiko kesehatan pencernaan bayi , tubuh justru tidak memberikan sinyal. Bayi sendiri belum begitu mengerti kondisi tubuh, bisa dibayangkan kekacauan yang bisa terjadi hanya karena masalah sepele.

02. Batasi makanan berat
Ada salah satu semboyan ‘pemenang dapat makan ayam untuk makan malam’ memang menjadi tanda bahwa produk daging lebih berharga dibanding sayur mayur. Supaya bayi tumbuh kuat di masa depan, tak jarang orang tua menyediakan daging untuk dihidangkan, terlebih jaman sekarang daging tidak semahal dulu. Beberapa resep bubur dan makanan pendamping air susu ibu melibatkan daging sebagai unsur bahan. Tidak ada yang mengatakan bahwa daging buruk untuk anak, tapi segala sesuatu yang berlebihan memang beresiko malapetaka. Kapasitas perut bayi hanya sebesar genggaman tangan orang dewasa, begitu juga dengan kemampuan mencerna. Daging sebetulnya masuk dalam kategori makanan berat yang sulit dicerna. Bayangkan saja, orang dewasa sendiri membutuhkan waktu lebih dari sehari untuk mencerna daging. Menghidangkan daging terlalu sering pada bayi sama saja dengan memaksa bayi mengkonsumsi racun tanpa sadar. Pencernaan bisa terganggu dan menimbulkan masalah kedepannya.

03. Porsi yang cukup
Era modern membuat manusia lebih mudah menyajikan makanan partai besar. Setiap kali membeli produk atau bahkan memasak sendiri, menghidangkan banyak porsi jauh lebih mudah dibanding hanya porsi sedikit. Tak heran, kuantitas makanan begitu melimpah sehingga pola makan manusia semakin maju kedepan alias makin banyak. Mengingat sibuknya kegiatan, tak jarang manusia terpaksa memilih porsi besar dan makan cepat agar tidak lebih banyak waktu guna kegiatan lain. Padahal, menurut ilmu kedokteran makan porsi besar dalam waktu singkat akan sangat berbahaya bagi pencernaan tubuh. Pasalnya, tubuh tetap membutuhkan waktu untuk mencerna setiap kali ada suapan masuk. Terlalu cepat makan bak memberikan pekerjaan setumpuk dalam satu waktu.

Kembali pada bayi. Pencernaan bayi masih belajar mencerna dan mengenal beragam bahan makanan yang masuk. Bayi saja jalan masih tertatih – tatih, tentu pencernaan juga sedang membiasakan diri untuk menyerap nutrisi. Karena sekarang orang tua sudah mengerti fakta dibalik pencernaan, alangkah baiknya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Belum ada porsi tetap setiap bayi karena memang perbedaan kemampuan mencerna. Yang bisa orang tua lakukan adalah mengurangi porsi biasanya dan menambahkan porsi lagi apabila bayi masih merasa lapar. Benar – benar luangkan waktu untuk memastikan bayi mengkunyah, ayah atau ibu bisa melakukan gerakan mengkunyah agar si kecil mengikuti.

04. Hindari minum berlebih
Makanan favorit dipadu dengan minuman kesukaan, betapa enaknya. Sayangnya, ada resiko dari kebiasaan yang menyenangkan ini. Banyak bayi juga mengharapkan adanya minuman saat mereka sedang makan, seolah minuman menjadi pelumas pencernaan sehingga lebih mudah. Faktanya, minuman bukan pelumas melainkan pelarut. Ketika makanan masuk dan ada pada pencernaan, usus yang sedang ‘mengkunyah’ makanan tersebut langsung berhenti bekerja ketika air masuk. Analoginya, sawah sedang dipanen tahu – tahu ada banjir datang. Air minum memang diperlukan sebagai bagian dari makanan tapi bukan berarti air minum harus bersama makanan. Agar kesehatan pencernaan bayi terjaga, minumlah air 15 menit sebelum makan dan 30 menit sesudah makan.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *