Tips Mendidik Balita Lebih Mandiri

tips mendidik balita
www.ibudanbalita.com

Tips mendidik balita tentu diperlukan guna pencapaian target tepat sasaran. Pencapaian usia diatas 1 tahun atau balita bisa menjadi kebanggaan bagi ayah dan bunda. Berbulan – bulan penuh perjuangan membesarkan bayi yang belum mampu beraktivitas mudah sekalipun tidak dapat diremehkan. Jangan lepaskan tingkat waspada bunda, karena balita hanya permulaan dalam hidup yang tak kalah penting yakni pembentukkan karakter. 

Balita adalah masa menikmati kemampuan sebagaimana orang dewasa. Mengingat berbulan – bulan bayi tidak mampu melihat, mendengar, maupun mendeteksi sekeliling dengan jelas, hanya genggaman tangan hangat dari ayah dan bunda menenangkan hati si kecil. Ketika menginjak usia balita, perasaan ingin lepas dari orang tua tetap ada. Tak ayal lagi, kata tidak dan penolakan terus dilontarkan bayi kemana – mana.

Naluri balita untuk lepas dari orang tua bisa dibilang bikin galau. Kalau dikekang anak malah tidak beranjak dewasa, tapi kalau dilepas bisa – bisa dua hari sudah tak ‘bertahan hidup’. Tips mendidik balita lebih mandiri dibuat agar orang tua terutama yang masih belum berpengalaman bisa mendapat pencerahan bagaimana menangani buah hati. Tidak banyak, hanya 4 saran mendidik balita yang bisa dipertimbangkan. Langsung saja simak daftar berikut :

Buat daftar
Balita memang terlihat kecil, tapi otak anak sudah berkembang pesat, begitu pula dengan koordinasi geraknya. Sudah saatnya ayah dan bunda memberikan kepercayaan bagi buah hati dalam melakukan kegiatan sehari – hari. Tentu saja, rasa percaya juga disertai hati – hati agar tidak mencelakakan anak.

Sebagai orang tua, tentu paham kemampuan dan karateristik anak. Renungkan, dan mulai pikirkan kemampuan si kecil saat ini. Tidak perlu memposisikan anak sebagai seorang jenius. Melipat baju sendiri, rapikan mainan, atau mematikan televise yang tak ditonton. Tugas mudah dan ringkas tapi sering justru membuat anak semakin percaya diri.

Pepatah mengatakan “Kamu adalah apa yang kamu pikirkan”
Kepercayaan bisa membawa seseorang pada kesuksesan maupun kejatuhan yang dalam. Sangat penting bagi orang tua untuk menanamkan minimal rasa percaya pada diri sendiri pada anak. Tanggung jawab bukanlah beban, justru hal itulah yang membuat anak bisa mandiri. Daftar yang telah dibahas sebelumnya adalah daftar tugas yang bisa anak lakukan tanpa pengawasan intens.
Komunikasi itu penting
Perencanaan tidak ada artinya tanpa eksekusi. Banyak manusia di dunia ini merencanakan banyak hal dalam hidupnya. Sayangnya, tidak banyak orang yang mengejar betul perencanaan yang sudah dibuat, sehingga hasil pemikiran hanya sia – sia belaka. Daftar tugas yang telah dibuat tidak mungkin memiliki dampak jika buah hati saja ogah melaksanakan.

Sebagai orang tua, komunikasi merupakan modal pertama. Hubungan harmonis antar ayah, ibu, dan buah hati tidak akan terbentuk tanpa adanya komunikasi yang baik. Daftar tugas yang dipunya, seharusnya dibicarakan dengan anak pula. Misalkan saja, merapikan mainan, bicarakan dengan anak bahwa maukah dirinya membereskan mainan serta jelaskan apa manfaat membereskan mainan.

 

Pilihan panggilan
Kalimat bisa punya ragam efek. Sebagai orang dewasa tentu paham bahwa salah kata bisa berakibat fatal. Hindari penggunaan kata anak kecil, bayi, dan indikasi kata lainnya yang bisa timbul perasaan diremehkan. Balita, meski statusnya masih anak kecil, tidak ingin dianggap anak – anak terus, justru dengan memanggil balita kakak sudah besar dan semacamnya akan meningkatkan rasa ingin tanggung jawab meski hanya dari panggilan saja.

Perilaku akan mencerminkan pikiran seseorang memang ada benarnya. Balita yang tak ingin dianggap anak – anak cenderung menolak bergandengan tangan. Memang, menggandeng tangan identik dengan romansa, namun bagi anak kecil, gandengan tangan berarti menunjukkan kelemahan. Maklumi penolakan balita saat bunda atau ayah mencoba menggandeng anak, ini saatnya merubah perlakuan padanya.

 

Sediakan waktu
Pembelajaran di usia apapun sudah pasti butuh waktu. Balita juga demikian, meski sudah bersemangat melakukan tanggung jawab secara mandiri, proses penyelesaian bayi membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Tingkat sabar butuh kontrol yang tinggi, bahkan pada orang dewasa yang sudah matang sekalipun. Fenomena sosial yang kerap terjadi, orang tua tidak sabar menunggu balita melakukan satu kegiatan sehingga memilih mengerjakan tugas yang seharusnya jadi tanggung jawab balita. Akibat dari perlakuan tersebut, balita merasa bahwa dirinya tidak dipercaya atau tidak perlu berusaha, toh mama papa akan membantu menyelesaikan.

Kasih sayang tidak selalu identik dengan memanjakan. Coba perhatikan timing rutinitas balita, kemudian sesuaikan dengan waktu persiapan. Misalkan saja, balita butuh sekitar 10 menit dalam merapikan tempat tidur, dibanding memaksa balita melakukan segala sesuatu lebih cepat yang bisa menimbulkan panik, lebih baik bangunkan balita lebih awal. Rutinitas yang dimulai dengan tambahan waktu secara psikologis membuat ayah bunda dan si kecil lebih tenang.

 

Tidak perlu sempurna
Balita sudah melakukan tugas, komunikasi berjalan dengan baik, dan manajemen waktu tidak membuat panik kedua belah pihak. Nah, ada satu lagi kebiasaan yang harus ditanamkan dalam diri orang tua dan bukan pada balita.

Namanya orang belajar salah itu wajar saja. Balita menumpahkan susu, bentuk kasur kurang rapi, sampai dengan menyenggol barang hingga pecah, sudah biasa. Orang tua kadang kelepasan dan marah pada kesalahan balita. Tidak jarang beberapa kata ketus keluar dari mulut, semakin menjatuhkan kepercayaan diri bayi.

Tujuan bayi melakukan segalanya sendiri bukan menyelesaikan tugas dengan sempurna. Tips melatih anak lebih kepada membuat anak mandiri.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *