Waspada, Pengaruh Buruk Terhadap Si Kecil Bisa Dari Mana Saja

psikologi anak efek buruk memarahi anak

Pengaruh buruk bisa berasal dari mana saja. Bukan tidak mungkin juga dari perilaku atau cara mengasuh ibu yang kurang tepat.

Jadi, jangan hanya menganggap pengaruh buruk itu disebabkan karena lingkungan yang kurang baik, teman bermain yang nakal, atau lingkungan sekolah yang kurang kondusif.

Bahkan, yang banyak tidak disadari oleh orang tua adalah pola asuh yang mereka lakukan.

Yang pasti, semua hal tersebut harus dihindari.

Memberikan Hukuman

Sebenarnya sah-sah saja memberikan hukuman. Itupun ada aturannya.

Jika anak ibu sudah berusia sekitar 6-7 tahun, memang tidak masalah jika ibu memberikan  hukuman atas perbuatan tidak baik yang ia lakukan. Itupun ibu harus memilih hukuman yang tepat. Hukuman dengan memberikan pukulan atau dengan mengeluarkan perkataan yang kasar bukanlah hukuman yang tepat.

Hukuman yang ibu berikan sebaiknya bersifat peringatan sekaligus pelajaran sehingga si kecil ingat dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Itu untuk anak usia 6-7 tahun. Hukuman saja harus hati-hati. Apalagi untuk balita. Jika si kecil masih balita, tentu saja memberikan hukuman pilihan yang tepat. Menasehati dan memberikan penjelasan tentang kesalahan yang ia lakukan jauh lebih baik daripada memberikan hukuman.

Dan yang pasti, hukuman akan membuat psikologi anak kurang baik. Menurut pakar psikologi anak, apa yang balita terima saat kecil akan berpengaruh terhadap psikologinya ketika dewasa nanti. Jadi, seminim mungkin ibu harus hindarkan si kecil dari pengaruh buruk.

Membiarkan Balita Sendirian

Sayang sekali jika melihat orang tua yang sering membuat balita merasa sendirian. Ia bermain sendiri sementara orang tua sibuk bermain handphone.

Pengaruh buruk apa yang bisa saja terjadi? Ketidakpercayaan kepada orang tua.

Ketika masih balita, seharusnya keterikatan antara anak dan orang tua harus dibangun. Dengan demikianlah, anak akan merasa aman dan percaya kepada orang tua.

Bagaimana anak bisa percaya dan merasa aman jika ia sudah merasa asyik bermain sendiri tanpa harus bersama orang tua?

Terdengar tidak masuk akal, memang. Tapi itulah yang terjadi. Apapun yang balita rasakan ketika masih kecil akan membentuk psikologinya ketika dewasa nanti.

Membuat Anak Stres

Apa yang membuat anak stres? Banyak sekali faktor penyebabnya. Tidak hanya sering memarahi si kecil sehingga ia mudah stres. Membuatnya bosan saja sudah cukup untuk membuatnya stres.

Dan itulah kenapa penting sekali bagi balita untuk bermain dan bersenang-senang. Selain untuk mengoptimalkan perkembangannya, bermain dan bersenang-senang juga akan membuatnya terhindar dari stres.

Dalam hal ini, harus menjadi catatan tersendiri bagi ibu bawasannya stres yang dialami oleh anak akan membuatnya tidak percaya diri. Dan ia tidak merasa percaya diri, maka ia akan sulit untuk berkembang. Ia juga akan kesulitan untuk berinteraksi sosial dengan teman sebayanya.

Untuk lebih jelasnya tentang pengaruh buruk apa yang bisa sangat berbahaya terhadap balita, ibu bisa konsultasikan dengan pakarnya di www.ibudanbalita.com. Di sana ibu bisa bebas bertanya kepada pakar perkembangan balita.

Atau ibu bisa bergabung dengan forum ibu dan balita di mana ibu bisa bertukar cerita dengan sesama orang tua tentang perkembangan balita.

Dengan terus memperkaya wawasan tentang tumbuh kembang balita, maka ibu akan lebih tahu bagaimana mengasuh anak dengan baik. Dan yang paling penting, ibu tidak menerapkan pola asuh yang kelihatannya baik tapi ternyata buruk untuk tumbuh kembang anak.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *